I t u l a h K e s e t i a a n

Hari berjalan begitu pelan, seperti langkah seorang gadis pemalu yang menciutkan kedua kakinya menyusuri tiap sudut taman kota yang ramai.

Tiap-tiap kelopak bunga yang dilewatinya menjadi layu oleh duka yang di bawanya.

Mata sang gadis mengais di antara semak dan rerumputan yang melingkari kedua kakinya. Sekali-kali sang gadis mengangkat kedua bola matanya, namun birunya langit membuatnya ciut kembali.

Jauh di dalam lubuk hati sang gadis, teramat dalam ia merindukan warna biru langit yang tersapu sekilas eawanan putih.

Entah berapa lama sejak terakhir kali sang gadis menatap langit,

Seperti biasanya sore itu sang gadis mengadu pada langit tentang hatinya yang hancur oleh sengatan lebah yang di temuinya sesaat lalu. Selalu saja tentang lebah yang sama yang sekali-kali menggoda lalu menyengatnya hingga membuatnya terluka.

Di tengah keasyikannya bercerita, tiba-tiba langit menggelegar. Sang gadis kaget ketakutan, tangannya bergetar ketika langit membentaknya dengan amarah yang begitu besar.

Lalu langit bergema “ Seekor lebah tak sebanding dengan kilaunya dirimu” itulah kata terakhir kali yang di dengarnya.

Hingga waktu terus berjalan, sang gadis tak pernah lagi menatap langit, ia hanya sekedar mengintipnya di malam hari ketika langit tertidur lelap.

Pada tiap malam itulah sang gadis menitikan air matanya, membisu dalam dukanya, tak lagi tentang kisah yang sama tentang seekor lebah penyengat, namun kebekuan yang begitu dalam tentang teman bicaranya yang enggan bicara padanya.

Dan pada sepanjang malam itulah ia berbicara kepada dirinya sendiri seakan sang langit tengah mendengarkannya.

Hingga pada suatu pagi, ketika sang gadis mendapati dirinya tersesat dalam kegelapan.

Kemana pun kakinya melangkah, ia terantuk dan terjatuh.

Setelah beberapa lama ia merenung, baru ia sadari bahwa dirinya telah menjadi buta.

Kemudian sedetik berlalu, sebuah suara yang di kenalnya membisikan sesuatu di antara kedua telinganya…

“ Jika kau tak lagi mampu menatapku di saat langit biru terang, maka dengan kebutaanmu kau kan bisa terus bercerita padaku seakan aku adalah langit malam. Itulah kesetiaan “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s