Nestapa Perempuan

[ Pembunuhan ]

Kenapa kau tidak mau mendengarkanku ?
Sudah berkali-kali ku ingatkan padamu ; jaga kelamin mu itu !
Jangan asal enak tapi kemudian berakhir rusuh. Rahim mu itu biar kecil tapi gudangnya anak, subur. Ibaratnya tanah yang gembur, tanpa pupuk pun bisa menumbuhkan pohon kelapa yang tinggi besar. Harusnya kau tutup rapat-rapat jalan ke gudangmu itu, sebelum ribuan sperma yang tergila-gila pada sel telurmu itu menyerbu beramai-ramai seperti orang kesetanan. Kalau sudah begitu, kau bisa apa?

Kita ini perempuan tak lebih seperti buah, yang dipetik, di santap, diperas sarinya hingga jadi ampas. Lalu kalau kita sudah jadi ampas, ke mana kita pergi ?? Tong sampah, itu tempat bagi kita; perempuan yang sudah layu dan lapuk. Dan mereka lelaki tak ambil pusing, mereka masih bisa berburu mangsa lain yang masih muda dan segar.

Aku bukannya sok mengajarimu !
Aku tidak munafik. Beberapa waktu yang lalu aku juga pernah merasakan bagaimana rasanya berbadan dua sepertimu sekarang ini. Apa kau fikir itu tak jadi soal buatku? Fisikku mungkin cukup kuat menanggung sakit. Tapi apa yang ada di kepala dan hatiku menjadi rusak karenanya. Punya anak di luar kawin jangan kau pikir masalah gampang, Cuma mengangkang di muka dokter atau bidan tak perlu malu, tak ada yang peduli biarpun selangkanganmu hitam dan berkerut. Tapi apa kau masih sanggup menanggung malu di depan tuhan Mu ? Dan apa jadinya anak kita nanti jika ada yang bertanya siapa bapaknya ? tidak mungkin kau bilang padanya kalo dia anak dari bapak yang tidak jelas; yang meninggalkanmu begitu saja ketika kau mengandungnya dan entah ada di mana sekarang. Sekarang ku tau kenapa vagina dan penis di sebut kemaluan karena muara rasa malu bisa datang dari sana.

Dulu, ketika ku kangkangkan kedua kakiku tepat di muka dokter gadungan itu, aku meringis kesakitan bukan main. Entah berapa jari yang ia masukan ke dalam liang vaginaku lalu dia otak-atik seperti obeng untuk mencari rahimku. Bukan sekedar sakit rahimku yang di remas-remas hingga meregang, tapi lebih sakit lagi membayangkan api neraka yang akan membakarku hidup-hidup, nanti.

Aku hanya tak mau kau merasakan semua itu.

Kau itu perempuan baik, tak sekedar cantik tapi apa yang ada di hati dan kepalamu itu amat berharga. Dari sekian banyak perempuan mungkin kau satu yang mampu menjadi dewi, seharusnya begitu. Tapi semua itu tak menjadi apa-apa lagi. Isi kepalamu akan menjadi busuk. Semua harapan dan nilai baik luntur oleh polah laku bodoh. Dan kau akan menggantungkan diri pada bayangan yang semu. Jika kau tak menjaga kelakuanmu itu, sesaat lagi waktu kan menelanmu hidup-hidup. Dan hanya keajaiban yang mampu menyelamatkanmu.

Jangan mengeluh padaku. Jangan memohon-mohon padaku.

Kemarin kau datang itu sudah cukup yang pertama dan terakhir. Aku tak mau ikut campur lagi dalam urusan bunuh – membunuh anak bayi tak berdosa. Kemarin kau ku bantu karena ku pikir ini kecelakaan dan bukan maumu jadi berbadan dua seperti itu. Aku pun tidak tahan melihatmu seperti orang tolol yang linglung. Apalagi aku tau ibu mu pasti akan mengusirmu dari rumah kalau saja dia tahu. Lalu kau nanti akan pergi dan memohon-mohon untuk tinggal bersamaku? Ah tidak, menyusahkanku saja.

Kau pernah bercerita padaku; pada suatu malam kau meringis kesakitan saat kau berikan kesucianmu, harta tak ternilai yang kau miliki, lalu kau di jadikan budak nafsu di malam-malam selanjutnya. Kau di tindih, kau di cabik-cabik nasfu, di biarkan meronta di tengah malam. Lalu di tinggal tidur sesaat setelah penetrasi. Tak ada yang peduli dengan kepuasaanmu. Tak ada yang dengar keinginanmu. Aku bahkan sangsi kalau kau tahu bagaimana rasanya orgasme.

Kau juga bilang padaku kau tak pernah puas di atas ranjang. Maumu itu tak terpenuhi. Tapi kenapa kau diam saja? Kenapa tidak kau bilang pada lelaki mu itu kalau kau lebih suka doggy style daripada posisi -enam sembilan- yang katamu tidak membuatmu nyaman. Kenapa juga tidak kau bilang kalau kau terganggu ketika harus bercinta sambil menonton film bokep. Kenapa kau malah bilang pada ku ? Bilang saja pada lelaki mu itu ! Kalau kau diam saja kau tak lebih dari pembantu, salah…pembantu saja masih bisa protes. Kau bisu. Kau budak.

Tak cukup itu, lalu kau pun di titipi benih yang tak kau inginkan. Di biarkan dengan rasa mual berkepanjangan sepanjang malam. Saat benih itu makin tumbuh subur di tubuhmu, sekujur badanmu sakit, pegal. Tapi apakah ada yang bisa rasakan itu selain dirimu?? Setiap tengah malam kau terbangunkan oleh rasa jijik dan mual di kerongkonganmu. Kau muntahkan semua yang kau makan hari itu. Apa ada yang peduli padamu ?

Suatu hari di sebuah hotel bintang tiga; dokter itu bilang sebaiknya di sana agar tidak mencurigakan, persetan ! di kota yang biasa kita datangi. Kau kangkangkan kakimu di hadapan seorang penyelamat yang tak lebih adalah setan itu sendiri. Kau relakan jemari itu mengotak ngatik vagina mu, mengira-ngira di mana letak rahim mu itu. Mencari benih yang akan di korbankan. Jemari itu terus bermain di vagina mu, menusukkan sebuah jarum yang akan membawa mu pada kematian. Masih ingatkah kau akan rasanya?? Rasa sakit yang kau pikir adalah kematian itu sendiri?? Siapa yang kau panggil saat itu ? Bukankan tuhan yang kau panggil?? Tidak, aku tahu bukan tuhan yang kau panggil, karena aku tahu bahwa kau terlalu malu untuk memanggilNya di saat-saat seperti itu. Kau merasa hina memanggilNya dengan mulia hanya karena kau takut akan kematian. Lalu siapa yang kau panggil? Lelaki itu kah? Lelaki yang membuahi mu? Lelaki yang menindihmu? Tidak, tidak mungkin dia. Karena dia tak ada di sisimu saat itu. Dia tak ada saat kau harus menanggung akibat “di tindih”. Betul-betul malang nasibmu.

Lihatlah pada akhirnya bukankah kau sendiri juga?? kenikmatan itu kalian nikmati bersama, tapi pada akhirnya kau tanggung sendiri. Lihat dirimu kini, rahim kecilmu itu kadang masih meregang kesakitan. Fikirmu itu masih rusak oleh mimpi-mimpi buruk dan kegelisahan yang kau alami tiap hari. Jiwa mu tak sehat lagi, karena kini kau tahu kau tak sesuci dulu lagi, tak semanusiawi dulu lagi……….

Waktu terus berjalan, tahun demi tahun kau lewati, tapi sisa-sisa mimpi burukmu itu harus kau jalani hingga kini dengan hidup yang penuh kebohongan dan ketakmampuan.

Bersyukurlah pada tuhan yang masih menyayangimu, dia masih sudi untuk menyelamatkan mu dari kematian yang hampir menggerogotimu, walaupun Ia tahu kau baru saja memberi kematian pada salah satu manusia kecil tak berdosa…..hhmm……..tak cukup begitu saja, nampaknya tuhan masih harus memberimu hukuman. Tak cukup kau terjatuh, dihimpit pula. Dan kini kau harus menjadi jiwa yang cacat.

Sekali lagi kukatakan padamu, tidak !

[ Perempuan; lemah ? ]

Memang tidak mudah menjadi perempuan, seberapa kuatnya kau mencoba bertahan, tetap saja air matamu kan meleleh, walaupun kau coba sembunyikan di belakang senyum manis mu itu.
Jiwamu berteriak “aku harus kuat;harus kuat…” tapi tetap saja hatimu berduka, sendu dan akhirnya tersungkur pula dalam ketakberdayaan.

Ya begitulah kita; kau dan aku dan berjuta perempuan lainnya. Ah, perempuan memang malang sekali nasibmu.
Tidak bisakah kita berdiri tegak sendiri saja, tak perlu siapapun tuk menopang. Tak perlu telinga manapun untuk mendengarkan. Tak butuh hati manapun untuk mengasihani. Tak butuh pelukan siapapun tuk menguatkan. Kita seharusnya bisa melakukannya sendiri, tak bisa berdiri maka merangkak lah, tak bisa pun kau terus usaha sampai mampu menggeserkan pantatmu. Kalau masih tak mampu juga, panggillah tuhan !

Kau ini selalu saja kau cari tempat tuk mengadu. Apakah tuhan tak cukup bagimu?? Apa karena dia kasat mata..Tak bisa kau dengar, tak bisa kau sentuh, tak bisa kau rasa. Lalu kau pikir Dia tak bisa lindungi mu?? Panggilalh tuhan ! Tuhan mu yang esa, tuhanku juga. Tuhan yang menjadi pelindungmu, pelindung kita !!

Dan hanya pada tuhan kita kan mampu percaya dengan totalitas, karena Tuhan tak mungkin khianat pada kita.

September 14th, 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s