Lingkaran Setan

Untung saja aku masih waras. Aku tidak memilih untuk melompat dari kereta yang melaju. Memang tidak melaju terlalu cepat tapi walau pelan bisa saja mematahkan kedua kakiku.

Kalau saja si udin masih ada aku mungkin tak perlu hidup dalam ketakutan yang mencekam seperti ini. Beberapa tahun yang lalu, seorang teman; perempuan dari kampung halamanku yang baru saja di tinggal mati suaminya, yang akan pergi untuk bekerja di luar negeri menitipkan si udin padaku. Padanya aku berjanji akan mengurus dan menjaganya. Awalnya aku begitu menyayangi si udin. Aku merawat dan mendandaninya tiap hari. Si udin memang tak setampan dan sebaik yang lain. Namun keberadaannya cukup menghibur hatiku dan membantu keseharianku. Ku bawa ke manapun aku pergi dan ku elu-elukan di depan semua orang.
Aku saling berkirim surat dengan temanku itu, selalu kuceritakan padanya tentang perkembangan si udin di sini. Temanku itu tak pernah lupa mengirim wesel setiap bulannya untuk memenuhi segala keperluan si udin.Kadang ia mengirimiku sejumlah uang yang bisa kupakai untuk menabung. Ia juga selalu menitipkan salam sayangnya untuk si udin.

Suatu hari, pacarku lelaki sialan yang sok naif sekaligus kere itu, meninggalkanku begitu saja dalam keadaan bunting. Aku ini juga sama kere, untuk makan sendiri saja susah nya minta ampun, apalagi untuk memberi makan orok di perutku ini.

Dengan diantar si udin aku pergi ke suatu tempat yang menjual jamu khusus datang bulan, katanya bisa manjur. Begitu yang kudengar dari seorang perempuan di bilangan pasar kembang tadi malam. Rupa-rupanya tukang jamu ini adalah langganan mbak-mbak genit yang biasa nyosor di sepanjang gang di pasar kembang.
Panasnya bukan main, seluruh isi perutku seperti nyala api yang terbakar sepanjang malam. Bagaimana tidak, aku sempat mengintip mbak jamu itu menambahkan 3 sendok merica ke dalam jamu racikan yang hanya secangkir kecil. Berkali-kali aku membakar diriku sepanjang malam dalam seminggu penuh. Tapi orok sialan itu tidak juga keluar. Mungkin benar kata orang tua, anak pertama biasanya kandungannya kuat. Aku harus cari cara lain.

Aku pun pergi ke dokter minta anak ini di matikan saja, tapi dokter itu malah memaki-makiku seenaknya. Dia bilang padaku aku hanya mau enaknya tidak mau anaknya. Seharusnya dia bilang begitu bukan padaku, tapi pada pacar brengsek ku itu ! Sebelum mengusirku dokter sialan itu sempat memberi tahu bahwa jenis kelamin orok haram itu ternyata lelaki. Aduhai malangnya nasibku, sudah anak haram, lelaki pula. Bagaimana jadinya kalo dia brengsek seperti bapaknya. Bisa jadi dia jauh lebih bejat dari bapaknya. Baru akil balig lalu berburu para perawan, menghamili mereka lalu meninggalkannya seperti apa yang di lakukan bapaknya.

Tidak ! Aku harus bunuh anak ini. Aku pun pergi mencari dokter lain yang kata kenalan ku mau “membantu” perempuan-perempuan malang seperti aku. Tapi ternyata bantu bukan asal membantu, dia juga mata duitan. Dasar serakah ia masih juga mencari banyak uang dengan praktik legalnya, padahal runahnya saja sudah seperti rumah-rumah priyayi jaman dulu. Dia minta banyak , alasannya karena kandunganku sudah cukup tua. Ternyata orok ini jauh lebih mahal dari harga kontrakan rumahku selama setahun. Aku harus menyiapkan uang yang banyak untuk melenyapkan orok ini. Aku dapat uang dari mana sebanyak itu? Aku harus berpikir cepat sebelum tetangga-tetangga tukang gosip itu curiga dengan badanku yang makin melar, apalagi aku makin doyan berlangganan rujak yang lewat depan rumahku setiap siang.

Entah setan apa yang merasuki pikiranku, tiba-tiba saja aku teringat seorang lelaki tua yang sudah lama menaksir si udin. dia pernah bilang padaku dia seorang yang kesepian dan dia suka sekali jika bisa menghabiskan banyak waktu dengan si udin. Dia bilang padaku setiap kali melihat si udin dia merasa lebih muda dan bergairah. Beberapa temanku bilang lelaki tua itu selain baik juga punya banyak uang dan biasanya mau membantu jika teman-teman ku sedang butuh uang. Aku dengan setengah ragu sore itu merayu si udin untuk ku ajak pergi ke tempat lelaki tua itu. Begitu kami datang sepertinya lelaki tua itu langsung mengerti maksud kedatanganku. Aku pun menyerahkan si udin pada lelaki tua itu. Saat itu aku bilang padanya hanya menitipkan si udin sampai aku mampu membayar sejumlah uang yang di pinjamkannya padaku. Dia pun menyanggupinya.

Aku akhirnya lega dan langsung pergi untuk menggadaikan nyawaku pada dokter gadungan itu. Ketika ku kangkangkan kedua kakiku, selangkangan ku pun mulai melebar tepat di muka wajahnya. Jemari nya mengotak-atik seluruh isi vagina dan rahimku. Darah segar mengucur deras seperti air hujan yang sudah lama tak menggenangi bumi. Dua minggu setelahnya aku masih mengalami perdarahan, tubuhku hingga lemas karena kehilangan banyak darah, untung saja aku masih mampu membeli vitamin penambah darah yang ku beli dari toko obat dekat rumahku. Meski tubuhku mulai hancur aku setidaknya merasa lega karena orok tanpa bapak itu akhirnya mampus juga.

Suatu hari aku menerima sepucuk surat dari temanku. Ia kabarkan padaku bahwa dia akan pulang akhir bulan ini. Katanya dia kangen padaku dan juga si udin. Gubraaaak….sontak saja berita itu membuatku histeris. Saat itu juga aku langsung pergi ke tempat lelaki tua itu untuk membawa pulang si udin. Meskipun aku belum punya cukup uang untuk membayar hutangku namun aku yakin dia pasti mau mengerti dan membantuku. Ku ketuk pintu rumahnya beberapa kali, tidak ada jawaban. Ku ulang lagi namun tetap sama, tidak ada jawaban.ku panggil namanya ; hening.

Tiba-tiba seorang tetangga nya menghampiriku dan memberitakan kabar buruk yang membuat jantungku tiba-tiba sakit, dadaku sesak ; lelaki itu pindah kota beberapa waktu yang lalu. Dia membawa si udin ikut serta bersamanya. Sialan !! ternyata lelaki itu mempecundangiku. Tetangga jeleknya pun tak tahu di mana alamat barunya. Aku benar-benar ditipu.

Aku pulang dengan langkah gontai. Langit seakan runtuh tepat di kepalaku. Dan setan-setan sialan itu menari-nari menertawakanku. Aku pulang dengan kereta malam. Dan ketika melewati suatu kota kecil bernama Gundih, tiba-tiba saja terpikir ideku untuk mati. Bukankah dengan begitu semua masalahku akan terselesaikan dalam sekejap, segala sesuatunya akan lebih mudah bagiku. Tak ada yang harus ku pertanggung jawabkan pada siapapun. Aku tak harus membayar apapun. Aku mau mati saja. Aku menghirup nafas sepanjang mungkin untuk terakhir kalinya. Kaki kananku sudah kusiapkan untuk melompat dari pintu kereta yang tengah melaju, namun ketika sebelah kakiku hampir mengikuti nya tiba-tiba bayangan orok sialan itu muncul di kepalaku. Ia berputaran di sekeliling ku dengan bola api yang berpijar di kedua tangannya. Ia tentu teramat senang menunggu kedatanganku di neraka, karena dia lah yang pertama kali akan menghajarku hingga hangus di lalap api neraka. Aku menjadi gentar akan kematian.

Dan tiba-tiba saja iblis yang yang menjelma malaikat datang membisikiku ; untuk apa kau mati kalau kau masih bisa melanjutkan hidup mu dengan berbohong. Aku jadi teringat teori lamaku. Selama ini aku bisa bertahan hidup adalah dengan berbohong. Kebohongan-kebohongan manis yang mampu menyelamatkanku dari kesengsaraan. Ya, aku mau tetap hidup. Toh, aku masih bisa menciptakan kebohongan yang manis untuk temanku itu.Dan kebohongan manis lain bagi lainnya.

Maka aku; sepanjang perjalanan kereta menuju jogja tengah malam ini, menyusun suatu skenario besar yang akan menyelamatkanku dari keterpurukan nanti.

Malam itu juga aku telah mengikrarkan diriku sebagai pembohong. Menjadi seorang pembohong tak bisa setengah-setengah. Sekali berbohong maka akan tercipta kebohongan-kebohongan lain yang mengikutinya. Jadilah hidupmu dunia yang penuh kebohongan. Dan ketika kebohongan telah terbiasa menjadi santapan harianmu. Pada saat itu kau tak kan sadar bahwa kebohongan telah menjelma menjadi suatu kebenaran.
Dan pada saat itu juga kau telah menjelma menjadi Iblis !

Yogyakarta, September 16th, 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s