About the Truth

Jiwa-jiwa yang sakit terperangkap pada terali antara benar dan salah. Jiwa-jiwa yang sakit meringis di tengah kericuhan yang meneriakkan kebenaran. Jiwa-jiwa yang sakit tertawan atas tuduhan yang mengatas namakan kebenaran. Jiwa-jiwa yang sakit adalah raga yang di telanjangi dengan kebenaran atas apa yang sepatutnya salah.Hanya jiwa-jiwa yang sakit yang mampu jujur atas apa yang sepatutnya salah.

Ketika kebenaran berada di tangan kebanyakan orang yang berfikir tentang kebenaran itu, sesungguhnya kebenaran itu telah menjadi salah. Kebenaran yang sebenar-benarnya ketika kebenaran itu di junjung di atas penderitaan dan kesakitan yang mampu membuka setiap mata bahwa kebenaran adalah sesuatu yang mendasar, mendalam, damai. Bukan bahan yang bisa di tarik ulur menjadi sebuah pertentangan antara minoritas dan mayoritas.

Kebenaran berada di tengah-tengah antara kekuasaan dan penderitaan. Kebenaran berada di antara terang dan gelap. Kebenaran berada di antara rasa kenyang dan lapar. Kebenaran adalah apa yang tak mungkin di terima dan juga tak mungkin di tolak.

Kebenaran tak berteman dengan rasa sakit, tidak juga berpihak pada kesenangan. Kenikmatan atas kebenaran adalah sesuatu yang melayang-layang di antara batas sadar dan ketidaksadaran.

Kebenaran adalah sesuatu yang tak bisa di klaim oleh apa dan siapapun. Kebenaran tidak menjadi milik mereka yang berakal atau buta huruf sekalipun. Kebenaran takkan mampu di takar dengan rasio ataupun di lihat dengan mata telanjang.

Kebenaran tidak berpihak pada orang-orang yang alim ataupun mereka sang pendosa. Kebenaran akan menjadi hilang dalam makna kebenaran itu sendiri.

Kebenaran telah memasung pikiranku dengan kemelut-kemelut yang tak mampu ku singkap dengan akalku. Rasioku tak ubahnya benang-benang yang tercampur aduk berbelit melingkar satu sama lain, kacau, berputar-putar di fikiranku. Kebenaran telah membutakan jalanku dalam menemukan makna dari kebenaran itu sendiri.

Ketika aku mentautkan fikiranku pada kebenaran, maka apa yang di tangkap oleh indera penglihatanku menjadi kabur dan kehilangan artinya. Tembok-tembok, bentuk, warna, suara, gambar, abjad…semuanya menjadi semu, seperti raga yang melayang-layang tanpa jiwa yang memaknainya.

Ketika aku mentautkan diriku pada kebenaran, maka segala yang berada di seputarku menjadi kosong hampa sunyi sepi, nol.

Pada titik itu aku tak tahu lagi apa makna kebenaran.

Yang ku lihat hanya terang benderang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s