Senandung Kematian

Kematian datang
seperti senandung yang membelah kesenyapan dengan lenguhan panjang sisa nafas
terakhir.
Di tengah hari
panas terik. Nyawa meregang menggeliat menggelepar tersungkur di ujung tombak
perkasa sang ijroil.

Nyawa terpisah
dari raga.
Dibiarkan menjerit sebelum akhirnya di persatukan di suatu tempat
gelap gulita.

Diiringi derai
hujan, sore itu keranda di berangkatkan dari rumah duka.
Tempat biasa ber suka
kini diliputi duka.
Daun jendela,
pintu dan lemari tua meniupkan doa di pelupuk mata kematian.
Setangkai mawar di
teras depan menjatuhkan kelopak nya menerbangkan aroma
sunyi senyap.
Selamat jalan.

Isak tangis dari
mata-mata sayu mengiringi raga di kebumikan.
Raga menyatu
dengan butiran pasir bebatuan dan sisa tahi ayam yang masih hangat.
Raga mengisi
rumah baru; liang lahat.
Jiwa takkan
kembali pada raga.
Jiwa yang terpisah dari raga adalah jiwa yang terbebaskan,
tunggal dan esensi.
Hamparan bunga
memuluskan jalan menuju alam di mana nyawa di regang di tebus
oleh baik dan
benar.

Tak ada teman
dalam kepedihan. Tidak juga bersuka cita.
Tidak kekasih. Tidak
ibu bapak.
Tidak pula para
pembohong.
Para pengkhianat
pun takkan mampu melucuti harga diri.

Hanya desau angin
yang setia.
Menjadi saksi
betapa kematian telah menyempurnakan hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s