In memoriam >> My beloved Jenni the kitten

Seekor kucing lebih dari sekedar hewan piaraan. Jenni telah membuktikan bahwa seekor kucing bisa menjadi sahabat setia sekaligus partner yang hebat. Ketika kita memutuskan kucing peliharaan kita sebagai bagian dari keluarga, maka Anda akan menemukan kekuatan luar biasa dari hubungan ini.

Jenni mungkin bisa menjadi salah satu contoh bagaimana seekor kucing bahkan dapat merubah pandangan anda tentang hidup atau bahkan tentang diri Anda sendiri.

Jenni adalah kucing kampung yang saya temukan di halaman kos lama saya. Saya langsung jatuh cinta sejak pertama kali melihatnya. Saat itu juga saya memboyongnya ke rumah baru. Jenni tidak seperti kucing lainnya yang pemalas, meskipun makannya banyak tapi jenni tetap kurus karena jenni sangat lincah dan aktif. Jenni lebih outdoor-indoor cat ! kenakalannya ini yang kadang membuat saya ingin menyerah dan mengeluarkannya dari rumah. Namun lama-lama saya belajar untuk melatihnya dan lebih bersabar menghadapi jenni. Kenakalannya ini kadang membuat teman-teman saya jengkel sekaligus merindukannya jika jenni tidak ada di rumah.

Selain menjadi teman di rumah, jenni juga adalah teman nongkrong yang menyenangkan. Saya terbiasa membawanya ke cafe tempat saya ngopi. Saya akan meletakkan keranjangnya di bawah meja saya. Ketika saya asyik ngobrol dengan teman2, jenni akan bermain-main di sekeliling saya, dan ketika sudah capek jenni akan masuk ke keranjangnya sendiri lalu tertidur. Saya juga sering mengajaknya jalan-jalan dengan sepeda motor, saya akan menggendongnya dengan kain atau dia akan bersembunyi di balik baju saya dengan kepalanya nongol ke luar. She’s so cute, adorable ! Saya mengajaknya menonton pagelaran tari ataupun ke acara2 lainnya. Minuman favoritnya adalah Yoghurt –minuman favorit saya juga- dan suka sekali makan sambal bawang. Kadang saya harus berebutan 2 hal itu dengan jenni.

Berdasarkan sebuah buku yang saya baca, kucing adalah sahabat yang setia – kucing dapat merasakan perubahan emosi anda dan menjadi penyeimbangnya – bahkan kucing dapat mempercepat proses penyembuhan pada berbagai kasus kesehatan. Meluangkan waktu beberapa menit setiap harinya dengan kucing anda, membelai dan bermain-main dengannya dapat merelaksasikan otot-otot dan pikiran anda sehingga muncul rasa damai dan bahagia. Pada saat proses ini terjadi tubuh melepaskan hormon oxytocin, hormon yang berhubungan dengan perasaan cinta dan kedamaian. Hormon tersebut akan menekan hormon penyebab stres yang awalnya mendekam di tubuh. hormon oxytocin ini meningkatkan jumlah antibodi tubuh yang kemudian dapat memperbaiki sistem pertahanan tubuh. Hal inilah yang kemudian dapat mempercepat proses penyembuhan.

Saya sering mengalami sakit kepala berat dan Maag yang kronis. Semenjak ada jenni kesehatan saya berangsur lebih baik karena saya selalu meluangkan waktu bersamanya sebagai terapi kesehatan. Mungkin juga karena saya menjadi lebih rileks dan bahagia.

Ketika berumur 2 bulan, tiba-tiba Jenni pulang ke rumah tanpa bersuara. Sepanjang sore itu Jenni diam tidak seperti biasanya. Suhu badannya naik di malam hari. Dan keesokannya Jenni mengalami kejang berulang-ulang. Akhirnya Jenni di bawa ke dokter dan mendapatkan perawatan. Menurut Dokter Jenni mengalami trauma pasca ”perkosaan” . Waktu itu jenni masih terlalu muda hingga organ seksualnya belum terbentuk sempurna, itulah sebabnya Jenni kesakitan akibat perkawinan paksa tersebut. Pada saat itulah Jenni membutuhkan pengobatan intensif dan perawatan ekstra, dan tentunya semua itu tidak murah !!

Sebelumnya saya tidak memiliki penghasilan tetap dan memang tidak terlalu bersemangat untuk memiliki pekerjaan tetap. Namun karena melihat kondisi jenni seperti itu, saya merasa kecewa karena tidak mampu memberikan pengobatan yang maksimal karena alasan finansial. Akhirnya saya tergerak untuk mendapatkan pekerjaan dan memiliki penghasilan tetap agar saya dapat membiayai pengobatan jenni, memberikan makanan yang cukup dan memberikan perawatan yang maksimal. Akhirnya Jenni kembali pulih dan terus memberikan dukungannya untuk saya, setiap kali lelah sehabis bekerja, Jenni akan berlari menyambut saya dan bermanja-manjaan di kaki saya. Hal itu cukup mengobati stress dan rasa lelah saya.

Jenni juga telah merubah pola hidup saya menjadi lebih disiplin. Karena harus mengurus Jenni maka secara otomatis saya harus merubah pola hidup saya yang tadinya tidak teratur dan selalu bangun kesiangan. Karena kami tidur satu kamar maka setiap pagi saya harus bangun untuk membukakan pintu kamar supaya Jenni bisa pup di litter box nya, awalnya memang sulit, namun karena jenni selalu mengeong dan menjilati muka saya setiap pagi, akhirnya saya menjadi terbiasa juga.

Jenni juga telah mengajarkan saya tentang cinta kasih yang tulus – unconditional love – ketika saya sakit, jenni akan berbaring di samping saya dan menunggui saya beristirahat. Walaupun biasanya setiap siang jenni bermain di luar rumah, namun ketika saya sakit jenni akan lebih banyak menghabiskan waktunya bersama saya. Begitupun ketika jenni sakit, saya telah belajar bagaimana merawat seekor anak kucing yang jelas tidak akan mampu mengurus dirinya sendirinya. Saya yang akan memandikan, menyediakan makannya sekaligus memberikan obatnya secara paksa melalui mulutnya. Terkadang ketika sakit, jenni bisa begitu bau dan kotor, namun saya harus tetap mengurusnya meskipun saya merasa jijik.

Saya sangat menyukai anak kecil. Mereka begitu lucu dan menggemaskan. Namun saya tidak pernah terpikir akan menjadi seorang ibu dan mengurus anak-anak saya terutama ketika mereka masih kecil. Membayangkan mereka pipis atau pup, dan saya yang harus mengurus semuanya kadang membuat saya mual. Namun saya belajar banyak dari hubungan saya dan jenni, Sekarang saya lebih optimis bahwa suatu saat nanti saya akan mampu menjadi Ibu yang baik bagi anak-anak saya.

Banyak orang yang sering menertawakan saya karena memelihara kucing kampung, melihat jenni dari segala kekurangannya – tidak selucu persia/anggora, kurus, nakal, dan sakit-sakitan – namun justru karena semua kekurangannya itulah saya belajar untuk mampu menerima jenni apa adanya. Pada titik itulah saya merasa bahwa saya lah yang harus mencintai dan melindungi jenni lebih dari siapapun. Ketika kita melihat kekurangan dari seseorang yang kita cintai, bukan hal yang bijak menjadikannya sebagai alasan untuk mencampakkannya, namun justru kita lah yang harus menutup kekurangannya. Reaksi seperti ini membuat saya berfikir ulang mengenai hubungan saya dengan orangtua. Saya saja bisa mencintai dan menerima jenni apa adanya, apalagi cinta orangtua saya pada saya tentunya jauh lebih besar – dengan segala kebandelan dan kekeras-kepalaan saya selama ini – . Saya menjadi lebih menghargai orangtua saya dan membina hubungan yang jauh lebih baik.

Well, sekarang Jennni sudah gak ada. She died lastnight. Jenni terkena virus calica yang menyerang tenggorokan dan saluran pernafasan lalu menyebar ke lambungnya. Sedikit sekali informasi yang bisa saya dapatkan dari web mengenai virus ini. Menurut dokter jarang sekali ada kucing yang bisa bertahan karena virus ini. Saya merasa senang punya kesempatan untuk mengurus jenni di hari-hari terakhirnya, meskipun belum bisa maksimal. Saya beruntung karena malam sebelum nya saya masih sempat mengurus dan membersihkan Jenni sehingga Jenni tidak harus mati dalam keadaan bau, apalagi saya sendiri yang mengurus pemakamannya – jenni di balut kain biru kesukaannya – She’s beautiful !

Love U Jenni !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s