Me Vs Bram

Aku melihat foto bram masih ada di album telepon kakak perempuanku, tertanggal 8 juni 2005. ya, aku masih ingat itulah terakhir kali bram dating berkunjung ke keluarga ku di tasik. sulit bagiku melihat lagi sosok itu meskipun berupa gambar mati. rasanya sebuah gambar mati bisa mengembalikan banyak kenangan yang pahit.

Tapi tak apa, mungkin inilah yang harus kuhadapi saat ini. aku harus mulai bisa belajar menghadapinya dengan berbesar hati. tanpa ada pengampunan dari dasar hatiku tentunya tak akan mudah bagiku untuk bisa melangkah dan melewati setiap tahapan pemulihan diriku.

Aku harus bisa menerima bahwa bram adalah bagian dari masa laluku dan apapun yang telah dia lakukan yang memperburuk keadaanku saat ini takkan banyak mengubah keyataaan yang tengah kuhadapi. aku mungkin membenci nya karena telah meninggalkanku dalam keadaan yang rentan dan rapuh dan memaksaku harus melewati pertanggungjawaban yang berat dengan berbekal hati yang lemah. namun kita tak pernah tahu isi hati seseorang, hanya Tuhan yang mengerti semua alasan di balik sikap bram yang menelantarkanku begitu saja, dan hanya Tuhan pula yang dapat memberikan pelajaran bagi bram, bukan aku atau siapapun.

Aku harus belajar untuk melepaskan penghakiman atas diri bram ataupun atas diriku sendiri, menyerahkan segala nya pada kuasa Tuhan dan berharap Tuhan lah yang akan membuka jalan bagi pemulihan diriku.

Aku begitu yakin, bahwa jauh di lubuk hati bram, dia pun merasakan kesesakan yang aku rasakan selama ini. mungkin aku jauh lebih beruntung jarena aku mampu mengkomunikasikannya dengan orang lain dan meminta bantuan orang-orang terdekatku. tapi bram, sejauh apa yang bisa di lakukannya ketika dia hanya meyimpannya sendiri. aku harus yakin bahwa bram pun tau apa yang aku rasakan, dan hati kecilnya takkan mungkin lepas dari perasaan bersalah, karena bram pun sama manusia lemah seperti aku.

Tuhan yang maha kuasa lah yang punya hak mutlak atas penghakiman dan pembenaran atas setiap sisi hati seseorang. inilah saatnya aku berpasrah dan yakin pada kuasa Tuhan, bahwa segala penderitaan dan kepedihan yang kurasakan selama ini takkan menjadi sia-sia, takkan ada nilai nol bagi mereka yang berjuang. mungkin tak akan ada artinya di mata manusia, tapi Tuhan tak buta dan selalu melihat setiap tindakan manusia sekecil apapun. setelah kesulitan maka akan ada kemudahan. dan aku yakin Tuhan telah merancang sesuatu yang indah bagiku ataupun bram pada saatnya nanti.

Ya Tuhan…jika apa yang tengah kuhadapi dalah siksaan atas dosaku padamu. maka jangan aku saja yang kau sayangi dengan kasih dan pengampunan. berilah kasih dan pengampunan bagi bram jauh lebih besar daripada apa yang telah kau berikan padaku. atas dosa yang pernah kami lakukan bersama, semestinya pula kami tunduk bersamaan di bawah kuasamu.

Bram, aku tidak akan menyesali setiap cuil kepahitan yang aku alami selama ini. aku tidak akan melemparkan penderitaanku di atas pundakmu. dan aku mohon maaf jika selama ini aku sempat membencimu dan melemparkan amarahku padamu. atas apa yang tidak pernah kuketahui dan mungkin takkan pernah ku tahu, aku yakin setiap dari kita memikul beban yang sama meskipun dalam rupa yang berbeda.

Tuhan memang mengasihiku jauh melebihi kemampuan ku menghambakan diri padanya, aku masih juga di berikan kepedihan hidup agar aku mampu melewatinya dan menemukan ketegaran yang luarbiasa. inilah jalan hidup yang telah ku buat dengan tanganku sendiri, dan Tuhan telah memberiku pilihan untuk menebus dan memperbaiki semasa aku masih punya waktu untuk menghargainya.

Ketika aku merasa sendiri ternyata Tuhan ada di sampingku dan membukakan jalan bagi semua orang yang menyayangiku untuk melihatku dalam keadaan yang lemah agar mereka yang mengasihiku dapat mengulurkan tangan mereka untuk menunjukkan kasih dan kepedulian mereka.

Ketika aku merasa terpuruk maka Tuhan pun membawaku pada orang-orang yang sebelumnya telah melampaui jalan yang kutempuh agar aku belajar dari kekuatan mereka dan menemukan kebenaran sejati dalam setiap keterpurukan orang-orang di sekitarku.

Tuhan telah membawaku melihat dunia lewat matanya, bahwa setiap apa yang buruk di hadapan manusia sejatinya tak selalu buruk di mata Tuhan. bahwa apa yang tampak sempurna di mata manusia tak selalu benar di mata Tuhan.

Memberi ampunan pada seseorang yang telah melukai perasaan kita tentunya bukan hal yang mudah, butuh waktu dan pemahaman yang lama untuk sampai pada titik di mana kita melihat bahawa pengampunan adalah salah satu cara untuk bisa berdamai dengan diri sendiri dan menerima bagian dari diri kita yang terpisah dari kenyataan ideal yang kita harapkan.

Untuk sampai pada tahap ini kita harus mampu melihat jauh ke dalam permasalahan kita dan menilhat inti perubahan yang kita inginkan. di saat kita menyadari seberat apa masalah yang kita hadapi akan jauh lebih mudah bagi kita untuk memperkirakan langkah penyelesaian yang terbaik bagi pemulihan diri kita. namun pada saat yang bersamaan kita akan menyadari bahwa tahapan pemulihan diri akan selalu terhambat ketika kita belum bisa melepaskan amarah yang membelenggu hati dan fikiran kita. amarah dan kebencian itu seperti ikatan yang kuat yang menutupi mata hati kita, hingga kemanapun kita melangkah segala sesuatunya akan terlihat gelap terhalang oleh amarah dan kebencian.

Di sinilah kita akan menyadari bahwa sudah saatnya kita melepaskan belenggu amarah yang menghalangi proses pemulihan diri kita, sedikit demi sedikit kita menerima amrah itu sebagai bagian emosi yang tidak bisa lepas dari manusia, namun pada saat bersamaan pula kita mengarahkan amarah kita pada bentuk emosi yang jauh lebih terkendali. kita tidak dapat melawan amarah, karena amarah adalah suatu bentuk emosi yang sangat manusiawi, hanya saja kita tidak dapat membiarkan amarah menguasai diri kita. perlahan-lahan kita rangkul amarah kita sebagai bagian diri kita dan mengolahnya sebagai bentuk kecil kekecewaan. dan pada akhirnya kita akan menyadari bahwa satu-satunya kunci utama yang dapat menundukkan amarah dalah pengampunan. tidak hanya pengampunan bagi mereka yang telah melukai kita namun juga pengampunan bagi diri kita sendiri yang telah membiarkan dilukai oleh amarah.

Jika Tuhan saja maha pengampuan maka siapakah diri kita yang begitu sulit memberikan ampunan….ampunan Tuhan takkan menjangkau diri kita selama kita masih terbelenggu oleh amarah….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s