Antagonis or…

Dalam sebuah penokohan aku bukan
karakter antagonis ataupun protagonist. Aku adalah tokoh yang mempunyai
karakter keduanya secara bersamaan. Pengalaman buruk dan semua konsekuensi yang
aku terima telah memberiku pencerahan dalam menemukan kesadaran atas makna
kehidupanku dan seberapa penting jati diriku yang sebenarnya ikut berperan
dalam membangun citra diri yang lebih baik. Hal ini menumbuhkan rasa butuh
terhadap perilaku diri yang lebih sadar, menginginkan keterlepasan dari trauma
dan amarah yang membelenggu. Aku percaya bahwa dengan melepaskan amarah dan
luka adalah suatu bentuk penemuan rasa damai yang di butuhkan setiap orang.

Namun di bawah alam sadarku ada
sesuatu yang terus bergejolak untuk muncul ke permukaan. Walaubagaimanapun juga
ego diri tetap ada dan menuntut untuk di dengarkan. Meskipun secara rasional
aku di tuntut untuk menimbang setiap tindakan, namun alam bawah sadarku tetap meminta
agar ego-ku punya posisi yang tetap terhormat. Apapun itu ego-ku ingin
memastikan bahwa setiap orang yang pernah memperlakukanku secara buruk harus
tetap membayar harga atas perbuatan mereka.

Aku melalui masa pemikiran yang
cukup alot untuk dapat menemukan titik temu antar hasil pemikiran otakku dengan
hatiku tanpa mengesampingkan tuntutan egoku.

Bagaimanakah caranya memberi
pelajaran pada mereka yang telah merendahkanku sedemikian rupa, memastikan
mereka membayar dengan hal yang setimpal namun tetap dengan cara yang “
semanis” mungkin?

Bagaimanakah cara menumpahkan
darah tanpa melibatkan tangan kita dan memastikannya tetap bersih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s