DIARY OF LOSS

Suatu pagi hari di
pertengahan bulan desember 2003, Bram menunggu di kamar dengan was-was ketika
aku melakukan test kehamilan dengan test-pack. Cemas dan gelisah, itulah yang
aku rasakan ketika mulai mengambil urin dan melakukan test. Setelah menunggu
beberapa saat ternyata hanya satu garis yang muncul. Dengan gembira aku
memberikannya pada Bram, aku masih ingat betapa aku melonjak kegirangan ketika
tahu hasilnya negatif. saat itu juga aku melempar test-pack dan meninggalkannya
begitu saja di kamar mandi. aku langsung membuka jendela kamar dan tertawa
bahagia melihat pagi yang cerah. Tawaku seketika terhenti ketika Bram memanggil
untuk kembali masuk ke kamar mandi.

” De..coba lihat lagi
deh.”

Bram menyodorkan
test-pack dan seketika itu juga badanku serasa lunglai. Tampak 2 garis merah
muncul di permukaan test-pack. Aku hamil.

Kami hanya
berpandangan mata dengan tatapan kosong, dan seketika itu juga kami hanya diam
membisu. Rasanya semua tiba-tiba menjadi gelap dan kosong.

Aku masih bisa
mengingat dengan jelas raut muka Bram menjadi kaku, raut muka yang biasanya
tegar dan kokoh itu tiba-tiba menjadi begitu rapuh. Seharian itu kami hanya
diam dan mencoba untuk tak membahas kehamilanku. Kami sibuk dengan fikiran kami
masing-masing.

Bram adalah lelaki
dari anak yang berada di dalam rahimku. Aku mengenalnya di bulan April tahun
2003. Aku hanya berkenalan selama 2 minggu sampai akhirnya kami memutuskan
untuk berpacaran. Bram datang seperti sebuah dongeng, dari pertama kali
melihatnya aku sudah merasa bahwa ”He’s the one”. Dan ternyata aku tak
merasakannya sendiri, Bram merasakan hal yang sama dari pertama kali kami
bertemu. Sore itu kami bertemu di kamar kostku ketika sahabatku Mia membawanya
turut serta mengunjungiku yang tengah terbaring sakit. Tak perlu berbasa-basi
cukup lama, mulai keesokan harinya Bram telah mengantarkanku kuliah setiap
hari.

Aku dan Bram adalah 2
pribadi yang sangat berbeda, aku menggambarkan diriku sebagai seseorang yang
senang berbicara dan berpetulang sedangkan Bram adalah sosok yang begitu diam
dan penuh pertimbangan. Satu-satunya hal yang membuat kami yakin kenapa kami
bisa jatuh cinta pada pandangan pertama hanyalah karena memang Tuhan telah
membuatnya seperti itu.Bahkan hingga akhirnya kami berpisah pun kami tetap tak
bisa mengerti apa yang membuat kami tetap terikat satu sama lain. Bram adalah
lelaki yang datang di saat aku berada dalam keadaan yang begitu kosong dan
lemah karena kehilangan sosok ayah tercinta. Sejak saat itulah kehdiran Bram
menggantikan kekosongan hatiku.

Buah cinta ku ini
hadir tanpa pernah kami duga. Selama ini aku dan Bram tak pernah terfikir
sampai bisa sejauh ini dan harus mengalami kehamilan yang tidak kami harapkan.
Hari pertama kami mengetahui kehamilan ini kami hanya diam satu sama lain. Saat
itu aku benar-benar tak bisa menggambarkan perasaanku, semuanya bercampur aduk
menjadi satu. Tapi harus ku akui, di samping rasa takut dan gelisah, hal
pertama yang muncul dalam benakku adalah kebahagiaan. Aku begitu bahagia mengetahui
kehamilan ini, memiliki sesuatu yang benar-benar nyata dan hidup di dalam
rahimku, buah cinta dengan seseorang yang benar-benar kukagumi dan kucintai,
aku tiba-tiba merasa telah menjadi sempurna sebagai seorang perempuan.

Baru keesokan harinya
akhirnya kami membahas kehamilan ini, dan ternyata Bram juga merasakan hal yang
sama. Kami berdua di liputi kebahagiaan yang besar mengetahui akan menjadi
orangtua dari buah cinta kami. Kami membayangkan bagaimana rasanya menggendong
bayi di dalam buaian kami dan merasakan senTuhannya. Sejak saat itu Bram jauh
lebih perhatian padaku, kami sangat berbahagia dan lebih saling menyayangi satu
sama lain. Seringkali Bram mengelus perutku dan menciuminya. Kami menghabiskan
hari-hari kami dengan membayangkan akan seperti apa jadinya anak kami nanti,
akankah mirip dengan aku atau justru lebih mirip bapaknya. Apakah ia akan
sepintar bapaknya atau secuek dan secentil ibunya? Oh aku benar-benar bahagia
saat itu.

Bram selalu ada di
sampingku memberi dorongan dan kekuatan, ia teramat sangat memanjakanku
mengingat keadaanku yang menjadi lemah akibat morning-sick dan ngidam. Selama
masa kehamilan aku tidak bisa mengkonsumsi nasi dan semua masakan yang
berbumbu, aku hanya bisa makan bubur, sup dan buah-buahan. Kadang-kadang di malam
hari Bram harus berburu semua makanan itu untukku

Kami tidak pernah
menyangka akan terjadi kehamilan sebelumnya, dan kami memang tidak pernah
merencanakan kehamilan ini. Mungkin itu sebabnya setelah selama seminggu lebih
kami berbahagia dengan kehamilan ini, tibalah masanya di mana kami menjadi
lebih terbebani dengan kehamilan ini. Ketika tiba pada suatu diskusi mengenai
bagaimana caranya menyampaikan kehamilan ini pada pihak keluarga, pada saat
itulah kami merasa benar-benar lemah dan tidak punya kekuatan untuk
melakukannya, mengingat bagaimana latar belakang keluarga kami yang sangat
memegang nilai moral dan agama, serta keadaan kami yang masih harus
menyelesaikan kuliah kami.

Sempat terfikir oleh
kami untuk segera menikah dan menyembunyikan kehamilan ini hingga nanti kami
benar-benar siap untuk tampil di hadapan keluarga, namun kami kembali
mengurungkan niat kami mengingat ketidakmungkinan kami untuk bisa membiayai
proses kehamilan dan melahirkan nantinya, belum lagi keadaan ekonomi keluarga Bram
saat itu memang sedang benar-benar jatuh.

Setelah melalui
perdebatan panjang dan menangis terus-menerus, akhirnya kami sampai pada
keputusan di mana aborsi adalah pilihan terbaik bagi kami saat itu. Seringkali
kami berpelukan dan menangisi keputusan kami tersebut. Tiba-tiba aku harus
merelakan kebahagiaanku berakhir saat itu juga. aku tahu Bram mengerti apa yang
aku rasakan dan memahami betapa berat semua ini bagiku, apalagi mengingat bahwa
dokter pernah memvonisku tidak bisa hamil karena penyakitku, betapa senangnya
aku mengetahui bahwa dokter itu salah namun pada akhirnya aku harus melepasnya
juga..

Setelah memutuskan untuk melakukan aborsi, maka kami
harus mengecek kehamilanku ke dokter dan mengetahui kondisi kehamilan sebelum
mencari dokter yang akan sanggup melakukan tindakan aborsi. Siang hari di awal
bulan januari kami berangkat pukul 11 siang menuju rumah sakit dimana aku akan
mengecek kehamilanku. Aku sudah mendaftar sejak sehari sebelumnya sehingga kami
tidak perlu menunggu lama. Rumah sakit tersebut adalah rumah sakit tempat aku
biasa berobat selama di yogya, satu-satunya rumah sakit yang menurutku
memberikan pelayanan medis yang cukup memuaskan. Untuk menjaga kerahasiaan
identitasku, aku akhirnya mendaftar sebagai pasien baru agar pemeriksaan kehamilanku
ini tidak tercatat dalam rekam medis pengobatanku. Aku mengaku sebagai Nyonya
meskipun tatapan nyinyir dari petugas rumah sakit sempat membuatku gugup.

Kami menunggu di koridor rumah sakit dengan cemas sembari
sibuk menyusun kata-kata dan alas an yang akan kami utarakan pada dokter nanti.
Aku melihat bram tampak jauh lebih cemas dari aku. Pada saat itulah aku
mengambil keputusan bahwa aku tidak akan mengajak Bram ikut serta ke dalam
ruang pemeriksaan. Gelagatnya tampak mencurigakan dan hal itu akan membuatku
semakin gelisah dan gugup.

Setelah menunggu selama setengah jam akhirnya seorang
perawat berusia kurang lebih 50 tahunan memanggilku. Aku masuk sendirian ke
dalam ruang pemeriksaan, aku sempat menoleh dan melihat bram hanya tersenyum getir
ke arahku, pasti ia sangat gugup dengan keadaan ini, pikirku. Perawat tersebut
memeriksa tekanan darahku dan melontarkan banyak pertanyaan yang berhubungan
dengan keluhanku.Dari jawabanku tampaknya ia tahu bahwa aku hamil san curiga
dengan gelagatku yang cemas.

“Pacarmu kok gak ikut masuk, dia pasti bapaknya kan?”
komentar pedas terlontar dari bibirnya dibarengi tatapan sinis yang mengintip
Bram dari balik kaca pintu. Aku hanya tersenyum menelan ludah. Ternyata tulisan
Nyonya yang tertera besar di rekam medisku tak juga membuatnya percaya atau
mungkin ia sudah sering bertemu dengan orang sepertiku yang dating dengan
gelagat mencurigakan.

Beberapa saat kemudian muncullah seorang perempuan
bermata sipi, rambut sebahu bergelombang, kulitnya putih dan berperawakan yang
sedikit gemuk. Umurnya sekitar 40 tahunan tapi ia tampak jauh lebih segar dari
umurnya. Ia adalah dokter yang akan memeriksaku hari ini.

Seytelah melakukan serangkaian pemeriksaan fisik, dokter
memberitahuku bahwa aku hamil dan usia kandunganku menginjak minggu ke-4. Untuk
memastikannya aku diminta pindah ke ruang sebelah untuk melakukan USG.

Disanalah, disebuah ruang bercat putih bersih yang
tertata dengan apik, aku terbaring dengan cemas. Saat perawat dokter mulai
mengoleskan cairan bening di sekitar perutku, aku sudah mulai gelisah. Lalu
dokter pun mulai mencari si benih kecil dalam rahimku dengan alat kecil yang
ditekan-tekan di sekitar perut bawahku. Aku melihat dari sebuah layer kecil
bagaimana alat itu mengintip isi rahimku, aku hanya bias melihat garis-garis
putih di sekitar bayangan berwarna hitam. Beberapa menit berlalu hingga dokter
menunjukkan sebuah titik kecil pada layar. Titik kecil menyerupai kacang yang
tersimpan apik di sana adalah cikal bakal anakku, calon buah cinta aku dan
bram. Aku melihat dengan takjub dan tak percaya bahwa titik sekecil itu suatu
saat akan tumbuh menjadi seorang manusia. Entah mengapa tiba-tiba rasa cemas
dan gugup yang tadi menguasaiku berubah menjadi sebersit rasa senang yang
menyeruak ke seluruh rongga dadaku. Ingin rasanya aku berteriak dan
memperlihatkan “kacang kecilku” pada semua orang yang ada di sana, terutama
Bram. Aku tidak hanya bahagia karena aku akhirnya sempurna menjadi seorang
perempuan, namun cikal bakal anakku ini adalah perpaduan cinta kasih antara aku
dan Bram. Seakan semua perbedaan yang selama ini menghalangi kami tiba-tiba
hilang dan menjelma menjadi harapan. Aku merasa calon bakal anakku akan
memiliki perpaduan sempurna dari kedua sifat orangtuanya, sesuatu yang tak bisa
di kompromikan akhirnya menyatu dalam diri seorang anak. Tidak hanya itu, aku
juga teringat dengan seorang dokter yang pernah menyatakan bahwa aku tidak akan
bisa hamil, kini kehadiran “kacang kecil” ku telah membuktikan bahwa
kesombongannya adalah suatu hal yang keliru.

Aku keluar dari ruang pemeriksaan dengan hati yang
berbunga-bunga dan senyum yang mengembang sempurna, di tanganku aku membawa
beberapa lembar hasil cetakan USG. Bram langsung berdiri menyambutku dan
ternganga melihat “kacang kecil” pada lembaran itu. Kecemasan yang sejak tadi
mengaburkan sinar matanya tiba-tiba berubah menjadi berkas cahaya yang
memancarkan kelegaan.

Aku mendekapnya erat sepanjang perjalanan pulang. Gegap
gempita bahagia membahana di dalam hatiku. Bram hanya diam, diam yang penuh
dengan rasa bahagia dan kebingungan pada saat yang bersamaan.

Beberapa minggu semenjak pemeriksaan itu kami benar-benar
dicekam rasa bahagia hingga kami lupa dengan rencana awal kami. Kami sibuk
membayangkan akan seperti apa jadinya anak kami nanti. Bahkan kamipun
mempersiapkan nama yang cantik untuknya. Aku akan menamakannya Cisco jika bayi
itu laki-laki atau Nazarina jika perempuan. Selama beberapa minggu itu
keadaanku juga menjadi semakin lemah, hampir sepanjang hari aku muntah-muntah hingga
badan terkulai lemas. Akupun tidak bisa mengkonsumsi nasi hingga setiap hari
Bram harus berkeliling mencari bubur ayam atau sup jaguang agar aku mau makan.

Masa-masa bahagia itu harus berakhir hingga suatu hari di
mana kami kembali teringat dengan masa depan kami. Dengan berat hati akhirnya kami
memutuskan untuk kembali ke rencana semula yaitu melakukan aborsi.Aku merasakan
kekecewaan yang begitu dalam sampai-sampai setiap malam aku mengelus perutku
dan meminta maaf pada cikal bakal anakku.

Saat itu sore hari sekitar pukul 4 sore ketika aku
mendatangi sebuah klinik spesialis kandungan di bilangan daerah godean
yogyakarta. Aku mendapatkan informasi mengenai klinik ini dari seorang teman
yang memberitahuku bahwa di klinik ini bias dilakukan tindakan aborsi. Berbeda
dengan sebelumnya, kali ini aku datang sendiri tanpa ditemani Bram.

Di suatu sore yang mendung aku tampak begitu gugup
menunggu di ruang tunggu klinik, tidak seperti rumah sakit yang kudatangi
sebelumnya, dinding klinik ini tanpa usang di makan usia, tidak ada lampu
terang yang bias menenangkanku. Klinik ini sedikit tampak tidak bersahabat
untukku. Ketidakhadiran Bram saat itu sungguh membuatku gelisah, tapi aku tetap
harus memberanikan diri masuk ke dalam ruang pemeriksaan dan menghadapi dokter
yang akan memeriksaku nanti.

Setelah cukup lama menunggu, sekitar pukul 5 sore aku
akhirnya dipanggil masuk oleh seorang perawat muda yang cantik. Ruangan
pemeriksaan tersebut tidak terlalu besar, terdapat sebuah meja tulis besar berwarna
coklat terbuat dari kayu mahoni. Di sebelahnya terdapat sebuah tempat tidur
yang dilengkapi berbagai peralatan pemeriksaan.

Beberapa menit kemudian masuk seorang lelaki berkulit
coklat berperawakan jangkung dengan keriput di sekitar wajahnya. Umurnya
sekitar 60 tahunan. Ia tampak begitu kolot dan angkuh, tidak ada tanda-tanda
yang menunjukkan sikap bersahabat. Tanpa basa-basi ia memintaku membuka celana
dalam dan rebahan di atas tempat tidur. Spontan aku menjadi kikuk, karenja
tidak ada selembar pun kain yang disodorkan padaku untuk menutupi daerah
kemaluanku. Pada pemeriksaan sebelumnya biasanya aku akan diminta rebahan dulu
di atas tempat tidur, lalu seorang perawat menutupi daerah bawah perutku dengan
selembar kain sebelum aku membuka celana dalamku. Kali ini sangat berbeda dan
hal itu membuatku merasa sangat tidak nyaman.Bahkan ketika aku sudah rebahan
pun tetap tidak ada kain yang menutupi daerah kemaluanku.

Aku diminta untuk membuka kedua kakiku lebar-lebar dan
dokter memeriksa vaginaku, dengan kasar tangannya menyentuh daerah vaginaku dan
masuk beberapa centi ke dalamnya. Aku hanya bias menelan ketidak sukaanku
dalam-dalam dan menjerit dalam hati. Tidak ada obrolan selama pemeriksaan,
semuanya terjadi begitu cepat hingga akhirnya selesai dilakukan USG.

Kali ini tidak ada penjelasan tentang hasil USG, bahkan
dokter pun tidak menunjujjan “kacang Kecil” ku.

Ketika aku duduk di kursi tepat di hadapan dokter, ia
tidak sedikit pun menatapku atau sedikit saja menebarkan empatinya padaku. Tampaknya
Ia sudah terbiasa melihat pasien yang dating dengan rasa cemas dan gelisah
sepertiku.

Hal yang aneh adalah ia menjelaskan bahwa usia
kandunganku sudah menginjak minggu ke-10, padahal saat itu baru 2 minggu
berlalu sejak pemeriksaan pertamaku yang berarti seharusnya usia kandunganku
menginjak minggu ke-6.

Dokter juga memberitahuku bahwa prosedur aborsi bias
dilakukan jika aku membawa surat persetujuan dari keluarga dan di temani oleh
pasanganku. Harga aborsi sendiri bervariasi tergantung dari usia kandungannya,
dan untuk usia kandunganku yang mengnjak minggu ke-10 biayanya sekitar 4
jutaan.

Aku tercengan sekaligus kecewa dengan penjelasan
tersebut, terlebih lagi aku sangat kecewa dengan sikap dokter tersebut.

Akhirnya sore itu aku pulang dengan membawa kabar buruk
untuk Bram. Jelas-jelas kami tidak mungkin melakukan prosedur aborsi di klinik
tersebut karena kami tidak memiliki cukup uang.

Malam itu di tempat Bram aku menangis menceritakan
perlakuan buruk di klinik yang sangat mengecewakanku dan membuatku merasa
begitu buruk.

Bram hanya bisa mendengarkanku dan memberikan pelukan
yang hangat. Selebihnya ia hanya diam, sibuk dengan fikirannya sendiri, seperti
biasanya.

Malam itu kami benar-benar kebingungan, karena tampaknya
tak ada titik cerah yang bisa memberi jalan keluar bagi permasalahan kami saat
itu. satu-satunya yang kemudian terfikir oleh kami adalah menghubungi sahabat
kami yang sebelumnya pernah melakukan aborsi, kemungkinan besar ia tahu di mana
kami bisa melakukan aborsi dengan biaya yang murah meskpun jelas konsekuensinya
kami harus melawan hukum dan melakukan prosedur yang tidak menjamin keamanan
dan kesehatan kami.

Beberapa hari
kemudian aku menemui sahabat ku itu dan mengajaknya keluar. Saat itu cuaca
sangat cerah, suatu sore dengan langit senja yang merah menjadi latar kami
ketika kami mengobrol di sebuah jalan layang tepat di atas stasiun Lempuyangan Jogjakarta.
di sanalah aku bertutur semua permasalahan ku yang di balas dengan raut muka
kaget dan kecewa, sahabat ku serentak memelukku dan berjanji akan membantuku
mencari jalan keluar.

Selama bermalam-malam
selanjutnya aku terus menangis membayangkan apa yang akan terjadi pada jabang
bayi ini dan betapa takutnya harus kehilangan sesuatu yang telah menyatu dengan
diri ku. Aku gelisah dan merasakan kesedihan yang dalam karena waktu semakin
dekat untuk melepasnya, seketika naluri keibuanku muncul, aku merasa begitu
kuat dan akan mampu mempertahankan bayi ini dalam keadaan apapun, aku merasa
yakin bahwa akan selalu ada jalan agar kami tetap bersama tanpa melepas bayi
ini. Namun pada saat yang bersamaan aku juga merasa takut dan cemas
membayangkan bagaimana reaksi keluarga terutama ibuku jika mengetahui hal ini. Dalam
saat yang bersamaan, semua emosi bercampur di dalam hati dan fikiranku hingga
aku benar-benar merasa kalut dan tidak mampu berfikir dengan jernih. Aku
memasrahkan semuanya pada Bram.

Sebagian hatiku
selalu ingin mempertahankan jabang bayi yang ada didalam rahimku, apalagi
semakin hari aku merasa semakin dekat dengannya, aku berbicara dan bertutur
banyak hal padanya. Tidak hanya itu, kehadiran jabang bayi di dalam rahimku
telah membuat hubunganku dengan Bram semakin kuat, Aku merasakan getaran yang
kuat setiap kali aku menatap Bram dan melihat kedua bola matanya, aku merasa
seperti itulah kedua mata anakku nantinya. Aku juga merasakan betapa Bram semakin
dekat dan menyayangiku.

Namun, akhirnya aku
harus rela membuat keputusan ini karena aku juga menyadari masa depan Bram ada
di tangan kami saat itu. aku mungkin tidak bisa menyelamatkan anakku saat itu,
namun aku masih bisa menyelamatkan masa depan ayah dari anakku yang tentunya
sangat aku cintai. Begitu pula masa depanku sendiri.

Aborsi adalah sesuatu
yang tidak benar dalam pandangan moral dan keyakinanku. aku tidak pernah
menyangka akan pernah membuat pilihan yang akan aku benci dan sesali seumur
hidup meskipun pada saat itu tampaknya aborsi adalah satu-satunya pilihan
terbaik yang kami punya. melawan sesuatu yang aku yakini benar tentunya membuat
diriku kecewa, jauh di dalam diriku aku merasa hancur karena tidak mampu
melakukan sesuatu yang benar menurut keyakinanku. namun pada saat yang
bersamaan aku juga merasa takut karena apa yang aku yakini benar bisa jadi akan
membuat kami kehilangan kesempatan untuk membangun hari esok yang lebih baik.

Saat itu akhir bulan Januari,
aku di temani 2 orang temanku berangkat menuju kota Solo. Satu jam perjalanan
menuju Solo tidak terasa begitu lama, kami menumpang sebuah mobil Hartop tua
berwarna coklat muda. Sepanjang perjalanan aku masih bengingat lantunan tembang
reggae dari Shaggy Dog memberi warna ceria pada perjalanan yang muram ini. Saat
itu Bram tidak menemaniku karena sahabatku meminta agar Bram tidak perlu ikut
ke tempat di mana kami akan melakukan prosedur aborsi. Sebagai gantinya
sahabatku mengajak salah satu teman lelakinya yang juga sekaligus penghubung
dengan si ”Mamih” yang akan menegerjakan prosedur aborsi nanti.

Jujur saja,pada saat
itu aku tidak merasakan emosi apapun. Ketika mobil mulai melaju aku tidak
merasakan ketakutan atau kegelisahan seperti yang ku bayangkan sebelumnya. Mungkin
saking paniknya dan juga terburu-buru, aku tidak punya cukup persiapan untuk
menghadapi keadaan darurat seperti saat itu. Apalagi beberapa jam sebelum
keberangkatanku ke Solo, aku dan Bram masih kebingungan mencari kekurangan uang
yang kami butuhkan untuk membiayai prosedur aborsi tersebut.

Aku termasuk orang
yang sulit menunjukkan emosi ku di depan lingkunganku, apalagi ketka melibatkan permasalahan pribadi
yang cukup berat, aku terbiasa untuk tampak baik-baik saja daripadaa harus
mengekspresikan rasa cemas dan gelisahku. Mungkin itu sebabnya pada saat
perjalanan menuju Solo aku merasa baik-baik saja, sepertinya ketakutan dan
emosi-emosi ku yang lainnya terkubur di bawah alam sadarku. Mungkin jika Bram
yang menemaniku saat itu, keadaannya akan berbeda, aku akan tampak sangat cemas
dan bergantung sepenuhnya pada Bram. Selain itu aku merasa tenang karena
sahabatku juga sebelumnya pernah melakukan aborsi dan tampaknya hal itu bukan
sesuatu hal yang menegangkan baginya.

Akhirnya kami tiba di
kota Solo sekitar pukul 3 sore hari. Mobil kami langsung menuju sebuah hotel
kecil di salah satu sudut kota Solo. Aku tidak bisa mengingat dengan jelas nama
hotel tersebut, tapi aku masih ingat rupa hotel itu. Sebuah hotel kecil 2
lantai bercat putih dengan tempat parkir yang sangat sempit. Saat itu aku
menunggu di dalam mobil sementara kedua temanku mengurus pemesanan kamar hotel.
Aku baru turun dari mobil ketika sebuah kamar kecil di samping ruang
resepsionis telah di persiapkan sedemikian rupa. Mereka sengaja memilih kamar
yang langsung memiliki akses ke tempat parkir agar memudahkan kami check-out
tanpa harus melalui ruang resepsionis dan memancing curiga para petugas hotel.

Kamar hotel itu
berada di lantai satu dengan teras yang langsung menghadap tempat parkir, kamar
ketiga dari sebelah kanan yang sedikit menjorok dan tidak tampak terbuka. Aku
memasuki kamar hotel itu sekira pukul setengah 4 sore. Kamar hotel itu
berukuran 4×4 dengan dinding bercat putih. Sebuah ranjang berukuran besar dengan
seprai putih menghadap ke pintu utama, di sebelah kiri ranjang tersebut ada
sebuah meja teh kecil dengan 2 kursi kayu berukir. Aku tidak ingat melihat
sebuah televisi di sana. Di bagian belakang ada lorong kecil yang menuju
toilet. Toilet kecil dengan shower tanpa bathub. Hal yang paling aku ingat dari
kamar hotel itu adalah sebuah selimut besar dan tebal berwarna merah darah,
sesuatu yang tampak anggun dan megah di dalam sebuah kamar yang sangat biasa.

Kami tidak perlu
menunggu lama hingga akhirnya datang seorang perempuan berumur kurang lebih 50
tahunan ke kamar kami.
Ia memperkenalkan dirinya sebagai ”Mamih”, yang ternyata baru saja sampai dari
perjalanannya dari Wonogiri, tempat dimana ia tinggal dan biasa bekerja sebagai
staff salah satu rumah sakit di sana. Hal pertama yang Mamih lakukan adalah
memintaku mandi air hangat dan membersihkan vaginaku. Ketika aku masuk ke
toilet, mereka berbincang hangat seakan mereka memang sudah saling lama
mengenal.

Saat air hangat
membasahi tubuhku, aku bisa merasakan kegelisahan yang luar biasa mencengkeram
seluruh permukaan kulitku. Aku memejamkan mata membayangkan suatu keadaan yang
tak bisa ku perkirakan. Akan seperti apa nanti? akankah menyakitkan? akankah
berjalan lancar dan cepat? apakah aku akan baik-baik saja? semua kecemasan
muncul menjelma ketakutan yang luarbiasa menegangkan bagiku. aku memikirkan Bram
yang tidak ada di sampingku dan berharap semoga Bram mengirimkan do’a bagi
keselamatanku.

Tubuhku basah, air
hangat yang seharusnya menghangatkan tubuhku tetap tak bisa menenangkan hati
dan fikiranku. Aku menggigil oleh rasa cemas yang meliputi seluruh tubuhku.

Aku melangkah ke luar
toilet. Mamih telah menyiapkan sebuah sudut di bagian ujung ranjang yang telah
di lapisi oleh beberapa lapis kain dan selimut merah itu.

Aku terbaring pasrah
di atas ranjang, entah emosi apa yang ku rasakan saat kedua temanku duduk di
sampingku dan memandangku dengan pandangan mata yang cemas.

Mamih memeriksa
perutku dengan tangannya. Perut bagian bawah di raba dan di tekannya. Mamih
sempat melontarkan beberapa pertanyaan seputar umur kehamilanku. Perkiraanku
saat itu umur kehamilanku menginjak
minggu ke 6 namun menurut Mamih umur kehamilanku sudah mulai menginjak bulan ke
2.

Mamih memintaku
membuka celana dalam dan memakai kain sarung, lalu kedua kakiku dibuka dan diangkatnya, tentu saja aku menolak, aku
tidak terbiasa harus mengangkang di hadapan orang lain apalagi pada saat itu
ada lelaki di sana. Namun Mamih memaksa dan meyakinkanku bahwa prosedur aborsi
tidak dapat di lakukan jika aku enggan menurutinya, akhirnya aku patuh setelah
meminta teman lelakiku untuk menunggu di
luar kamar hotel.

Disanalah aku
menggadaikan nyawaku. Di sebuah kamar hotel di salah satu sudut kota Solo di
akhir bulan Januari yang muram. Sebuah kamar hotel kecil berukuran 4×4 bercat
putih, tanpa TV, dengan 2 kursi kayu dan sebuah meja teh kecil, beralaskan
selimut berwarna merah semerah darah yang mengalir dari liang vaginaku.

Hanya ada aku, Mamih
dan Mia. Tanpa sempat memikirkan rasa malu aku mengangkang tepat di hadapan Mamih
dan membiarkan jari-jemari Mamih bergerak masuk ke dalam vaginaku. Aku masih
bisa mengingat dengan jelas bagaimana rasa ngilu merontokkan seluruh urat
nadiku ketika jari Mamih masuk makin dalam hingga menyentuh dinding rahimku. Air
mataku bercucuran menahan rasa sakit namun suaraku hilang tertelan rasa takut
yang ajaib.

Seketika bayangan
hidupku muncul, masa-masa yamg telah berlalu tersibak di urat mataku. Aku
mengingat ayah dan ibuku. Dan rasa sakitku pun semakin menggila bercampur
dengan rasa bersalah. Hal yang paling menyakitkan saat itu adalah mengingat
betapa kedua orangtuaku bangga akan diriku sedangkan aku telah mengecewakan
mereka dengan perilaku ku. Air mataku makin bercucuran menahan rasa sakit dalam
dadaku.

” Ya Tuhan ampuni aku…beri
aku kesempatan hidup !” Jeritku dalam hati.

Seluruh tubuh ini
semakin lunglai, aku kehilangan seluruh kekuatanku ketika jari Mamih memasukan
sesuatu ke dalam vaginaku. Aku meronta dan berteriak kesakitan. Mia dan Mamih
menahanku namun aku meronta lebih lebih kuat lagi melawan rasa sakit ini. akhirnya
Mia memanggil Ferry masuk dan meminta bantuannya untuk menahanku. Mia memegangi
tangan kananku dan Ferry menahanku di sebelah kiri sementara Mamih meneruskan
pekerjaannya.

Ya Tuhan, benar-benar
menyakitkan, vaginaku di koyak-koyak seperti sebuah mainan, jari jemari Mamih
bermain-main di dalam liang vaginaku. Seluruh urat vaginaku berkontraksi dan
mencoba melawan, namun percuma rasa sakit itu jauh lebih kuat. Aku bisa merasakan
mulut vaginaku menyempit dan menjepit jari Mamih, Mamih memintaku melepaskannya
dan membiarkan Mamih menyuntikan obat tersebut. Aku tak punya pilihan untuk
mundur selain bertarung dengan rasa nyeri ini.

Akhirnya Mamih
berhasil memasukan cairan tersebut melalui dinding rahimku. Dan ketika cairan
itu menembus dinding rahim, aku bisa merasakan rasa mual yang hampir keluar
dari kerongkonganku. Seluruh isi perutku memberontak dan menyebarkan rasa ngilu
ke sekujur tubuhku. Ketika cairan itu mulai menyebar di dalam rahimku, aku bisa
merasakan seluruh urat nadiku seakan meleleh, aku menggeliat dalam rasa sakit
yang melumpuhkanku. Aku tidak pernah merasakan sakit yang jauh lebih nyata dari
ini seumur hidupku.

Aku menggenggam
tangan Mia dan Ferry kuat-kuat. Gigi-gigiku bergetar menahan nyeri yang luar
biasa hebatnya. Sesuatu di dalam diriku memaksaku untuk melawan dan keluar dari
situasi ini, namun rasa ngilu terlanjur melumpuhkanku dan membuatku kehilangan
akalku.

Detik berikutnya, aku
serahkan semuanya pada kuasa Tuhan. Aku tak meminta apapun selain ampunan bagi
aku dan Bram. Aku memohon pengampunan di ujung ajalku. Jikapun aku mati pada
siapa lagi aku berserah diri.

Saat itu aku fikir
aku akan mati. Aku hampir kehilangan kesadaranku. Aku merasa seakan tubuhku
telah melayang dan tak bisa merasakan apa-apa lagi.

Maka, akupun tak bisa
mengingat rasa sakit itu lagi. Aku hanya bisa mengingat sekelebat bayangan
muncul di pelupuk mataku, aku melihat sinar mata orang-orang yang ku kasihi,
ayah ibuku, keluargaku dan Bram.

Aku mulai tersenyum
mencoba meraih mereka.

”Nah…sudah
selesai.” Mamih tersenyum ke arahku yang kubalas dengan tatapan kosong.

Selama beberapa menit
ke depan aku menjadi shock. Otakku masih bisa berfikir dan mengingat semua yang
terjadi, namun tubuhku tak lagi bisa bergerak. Aku terbaring lemah dan tak
berdaya. Mulutku menganga tanpa mengucap sepatah katapun, air mataku berlinang.
Aku beku. Mati rasa.

Aku baru saja
bergelut dengan kematian.

Jika ada yang ku tahu
tentang rasa kematian, maka dalam bayanganku itulah sesakit-sakitnya kematian.

Aku bersyukur pada
tuhan yang masih menyayangiku, dia masih sudi untuk menyelamatkan ku dari
kematian yang hampir menggerogotiku, walaupun Ia tahu aku baru saja memberi
kematian pada salah satu manusia kecil
tak berdosa

Aku bangkit dari tempat tidur dan berlari menuju toilet,
kedua pahaku masih terasa tegang akibat menahan rasa sakit yang menjalar di
dalam lubang vaginaku. KJu basuh dan kubersihkan liang vaginaku dari sisa-sisa
cairan yang mengalir dari dalam liang vaginaku. Air hangat tak mampu melepuh
rasa sakit yang masih seakan mencengkaram dinding rahimku. Mia menggedor
mengetuk pintu toilet dan menyodorkan selembar pembalut.

” Cepat ya, kita harus segera pulang.”

Aku hanya mengangguk sembari meringis menahan sisa rasa
sakit.

Dalam beberapa menit aku sudah keluar dari toilet dan
bersiap segera check out dari kamar hotel. Mamih sempat mengajak kami mengobrol
sebentar, memberi tahu ku agar segera pulang ke Jogja dan menunggu beberapa jam
lagi sampai si jabang bayi keluar dari lubang vaginaku.

” Kalau ada apa-apa nanti hubungi Mamih aja ya.”

Cuma itu kata-kata terakhir yang kudengar dari Mamih
sebelum ia beranjak meninggalkan kamar hotel.

Kedua temanku segera mengurus semua barang yang masih ada
di dalam kamar, lalu mengajakku keluar dari kamar hotel sesegera mungkin. Aku
masih bisa merasakan rasa sakit dan mual yang menggerogoti perutku, namun saat
itu aku harus tetap berjalan kaki sendirian menuju mobil, ku coba berjalan sebiasa
mungkin dan menahan rasa sakit agar orang-orang di hotel tidak ada yang
mencurigai kami.

Kami meninggalkan Solo pukul setengah 6 sore, aku
terbaring di bagian belakang mobil dengan kaki mengangkang menahan rasa ngilu
yang semakin menjadi-jadi. Mobil yang kami pakai adalah mobil tua, setiap kali
ia melewati polisi tidur aku bisa merasakan guncangan yang kuat yang membuatku
semakin ngilu. Aku bisa merasakan darah mulai keluar dengan deras dari mulut
vaginaku, setiap kali darah itu keluar aku bisa merasakan daerah pinggangku
melilit kesakitan yang bercampur dengan pegal yang luar biasa hebatnya. Sekali
lagi satu-satunya yang menghiburku adalah nyanyian dari Shaggy Dog.

di sayidan..di jalanan..

sekali lagi
angkat gelasmu kawan…

di sayidan di
jalanan…

tuangkan air
kedamaian ”

Kedua temanku yang duduk di depan mengobrol dengan
asyiknya sementara aku melawan rasa sakit yang membuatku terduduk kaku di jok
belakang. Aku yakin mereka mencoba bersikap setenang mungkin agar aku tidak
semakin risau dan gelisah.

” Tenang ya na…gak pa pa kok, ntar kalo dah keluar
pasti semuannya beres. kalo ada
apa-apa kita telpon Mamih aja ya.” Mia berusaha menenangkanku.

Aku tak ingat apakah pada saat itu aku merasa lega atau
tidak. Seharusnya aku merasa lega karena akhirnya prosedur aborsi itu berhasil
dan aku tidak dapat meneruskan lagi kehamilanku. Namun rasa sakit yang
kurasakan pada saat itu benar-benar telah membutakanku. Aku tak benar-benar
ingat apakah aku merasa lega atau tidak. Aku hanya ingat bahwa pada saat itu
aku sempat merasa marah pada Bram karena tidak ada di sampingku dan menemaniku
melewati saat-saat itu. Namun pada saat yang sama aku juga yakin bahwa Bram
pasti juga tengah memikirkanku dan mendoakan keselamatanku.

Pada saat itu aku hanya berharap ada Bram di sampingku
menemaniku melewati saat-saat sulit seperti ini, aku yakin genggaman tangan dan
tatapan matanya akan mampu menguatkanku. Air mataku tak sempat keluar saking
pedihnya sakit yang harus kutahan.

Jalanan menuju Jogja tampak begitu panjang dan melelahkan
bagiku, satu setengah jam rasanya seperti berminggu-minggu lamannya bagiku.
setiap kali aku merasakan guncangan aku hanya berharap semoga saja itu adalah
guncangan yang terakhir. Namun guncangan itu seperti tidak ada habisnya.

Setelah melalui
perjalanan yang lama dan menyakitkan, akhirnya kami sampai di Jogja pukul 7
malam. Kedua temanku singgah di KFC untuk membelikanku soup jagung
favoritku. Setelah menunggu beberapa
lama akhirnya kami pulang menuju kostan Mia.

Sesampainya di kamar Mia,
aku langsung ke kamar mandi dan mengganti pembalut, aku merasakan perutku mual
saat aku melihat banyaknya darah yang mengucur dari mulut vaginaku. baru satu
setengah jam yang lalu aku memakai pembalut, namun aku harus sudah menggantinya
lagi saking banyak nya darah yang keluar.

“Gimana na, dah
keluar belum ?” Mia menengok dari balik pintu .

”Aku gak tau, kayak
apa keluarnya?” Jawabku kebingungan

Mia lalu melihat ke
arah pembalutku, lalu menerangkan padaku bahwa nanti akan keluar gumpalan
daging berwarna merah gelap pekat. Namun aku tak melihatnya selain darah segar
berwarna merah.

” Ya udah ga pa pa,
tunggu aja, biasanya 1-2 jam kemudian baru keluar, kamu mungkin rada lama
kali.”

Setelah selesai aku
keluar dari kamar mandi dan duduk di atas tempat tidur dengan seprai berwarna
biru. aku meminjam hp Mia untuk mengirim sms.

” Meong, sakit
banget…aku gak kuat.

kamu di mana? harusnya kamu ada di sini. ”

……..message
sent……..

Malam itu aku merasa
begitu kosong dan hampa, aku ingin segera bertemu Bram dan melewati malam ini
bersama dengan Bram. Tubuhku lunglai oleh rasa sakit yang menjalari seluruh
tubuhku. Aku merasakan ngilu yang luar biasa setiap kali darah itu mengucur
dari mulut vaginaku. Aku ingin pulang malam itu. Namun Mia melarangku pulang
dengan alasan agar aku bisa lebih leluasa dan tenang di tempatnya. Aku di perbolehkan
pulang jika si jabang bayi sudah benar-benar keluar dari rahimku.

Malam itu aku
menelpon Bram dan menangis menceritakan apa yang kualami hari ini. Betapa aku
ingin bertemu dan berkumpul lagi dengannya saat ini. Bram hanya berbicara
sedikit dengan suara yang gelisah, ia mencoba menenangkanku dan mengingatkanku
bahwa kami harus bersabar hingga semuanya selesai.

” Yang kuat ya
pus…i luv u ” Hanya itu kata-kata Bram yang menjadi kekuatanku melalui malam
yang berat dan menyakitkan.

Malam itu akhirnya aku
tidur di tempat Mia. Setelah menelan pil pengurang rasa sakit akhirnya aku bisa
sedikit berdamai dengan tubuhku dan akhirnya tertidur setelah lelah melawan
rasa sakit.

Keesokan paginya aku
bangun lebih siang dari biasanya, darah yang semakin banyak mengucur dari mulut
vaginaku membuatku terbangun dan memaksaku untuk mengganti pembalut untuk
kesekian kalinya.

Pagi itu Mia duduk di
sebelahku di atas ranjang berseprai biru.

” Gimana na, udah
keluar?”

Aku kembali
menggelengkan kepala

” Kok bisa ya,
biasanya beberapa jam langsung keluar. kok kamu nggak ya?

Mia malah tampak
lebih bingung dari aku

“ Gw telpon Ferry dulu ya suruh dia telpon
Mamih“

Aku cuma mengangguk. Aku
benar-benar tak peduli. Saat itu aku hanya menginginkan angin secepatnya
mengirimkan Bram untukku. Dan pagi itu terasa sangan lama untukku, otakku
berputar berusaha mengingat kejadian hari kemarin, namun satu-satunya yang ku
ingat dengan jelas adalah rasa sakit yang hebat. Perutku terasa mual setiap
kali mengingat jari jemari Mamih masuk ke dalam liang vaginaku dan
mengotak-atiknya.

Akhirnya Bram datang
pukul 10 pagi, ia duduk di sampingku dan menatapku dengan pandangan yang begitu
mengiba, kedua tangannya meraih tanganku dan menciumnya. aku hanya bisa
meneteskan air mata dan sesenggukan menjatuhkan diriku ke dalam pelukannya. Bram
mendekapku dan mengelus rambutku.

“Maafin aku ya pus..”

Tatapan mata Bram
semakin layu melihatku yang lunglai menyerah di hadapannya. Kupasrahkan seluruh
rasa sakit dan kerinduanku.

“Bawa aku pulang ya,
aku mau sama kamu ” Aku menatapnya dan memintanya berjanji untuk membawaku
turut serta bersamanya. Bram mengangguk dan tersenyum. sebuah senyum yang
melegakan hatiku.

Akhirnya siang itu
aku pulang ke tempat Bram.

Dan jabang bayi itu
belum juga keluar dari rahimku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s