Diary of Lost

Hanya
butuh waktu 9 bulan sejak terjadinya proses aborsi sampai akhirnya kami
memutuskan untuk berpisah. Pada saat itu aku merasa mungkin inilah keputusan
terbaik bagi kami, terutama bagi bram. Setelah melalui proses yang cukup
bertele-tele akhirnya aku menyetujui kemauan bram untuk putus. Pada saat
memutuskan untuk berpisah bram berjanji akan membantuku meyelesaikan utang uang
yang kami pakai untuk prosedur aborsi.

Ya,
menjalani prosedur aborsi buat kami tidak hanya menyakitkan namun juga sangat
memberatkan. Untuk ukuran mahasiswa seperti kami uang 2.5 juta bukanlah uang
yang sedikit. Bahkan pada saat itu kami tidak memilikinya sama sekali, sampai
akhirnya aku harus menjual handphone dan menggadai motor bebek kesayangan
pemberian dari almarhum bapakku. Bram saat itu hanya memberiku beberapa ratus
ribu rupiah, itupun pinjaman dari seorang teman baiknya.

Uang
pinjaman yang seharusnya kami kembalikan dalam waktu sebulan terrnyata molor
dari waktunya, hingga waktu yang telah kami janjikan ternyata kami tidak dapat
membayarnya. Alhasil kami tidak dapat membayar bunganya yang melambung semakin
tinggi setiap harinya. Untuk
menutupinya, akhirnya kami menjual motor itu pada seorang teman untuk membayar
hutang, aku hanya mendapat sedikit sisa kembaliannya.

Sejak
saat itu aku berusaha memutar otak bagaimana caranya agar bisa mendapatkan
motor baru agar keluargaku tidak curiga. hal yang menenangkanku adalah pada
saat itu bram berjanji akan turut bertanggung jawab dengan membantuku mencari
jalan keluar.

Selain
mengalami kebangkrutan, pada saat yang bersamaan aku mulai merasakan nyeri di
bagian bawah perut sebelah kanan. Aku tidak pernah menyangka bahwa ternyata
rasa sakit tersebut merupakan efek aborsi yang tidak bersih. Tidak pernah
terfikir olehku bahwa ternyata aborsi akan memberikan dampak yang berkelanjutan
pada tubuhku. Tanpa sedikitpun rasa curiga, aku memeriksakan diri ke dokter dan
dokter menyatakan bahwa aku menderita usus buntu, aku pun memaksa untuk di
operasi namun dokter menolak dengan alasan menurutnya usus buntu ku belum
terlalu parah dan masih bisa di obati dengan obat-obatan tanpa harus
mengangkatnya. Namun karena rasa sakit yang terus menerus akhirnya aku meminta
dokter di rumah sakit lain untuk melakukan operasi. Akhirnya aku menjalani
operasi tersebut pada bulan juli 2004. Baru beberapa bulan kemudian aku sadar
bahwa dokter tersebut benar, setelah menjalani operasi dengan 8 jahitan
ternyata aku masih bisa merasakan sakit yang luar biasa di bagian bawah perut
kananku sama seperti sebelumnya dan rasa sakit itu selalu datang setiap
minggunya. Saat itulah aku benar-benar menyadari bahwa ada sesuatu yang salah
dengan diriku yang berhubungan degan prosedur aborsi yang tidak bersih
sebelumnya.

Pada pertengahan bulan desember 2004 aku resmi menjadi seorang single, bangkrut dan
pesakitan. My life officially down !!

Di awal bulan february aku seharusnya mulai kembali ke
bangku kuliah, namun pada akhirnya uang kuliah pun habis untuk membiayai
pengobatanku. hutangku semakin banyak di mana-mana dan untuk membayarnya aku
harus berutang lagi pada yang lain, begitu seterusnya. Terlilit utang dan
menahan rasa sakit yang datang bertubi-tubi akhirnya meruntuhkan kekuatanku.
aku mulai mengalami depresi.

Tidak pernah satu malampun bisa aku lewatkan tanpa
pikiran yang kacau dan mimpi buruk. Aku bisa tiba-tiba menangis tanpa alasan
atau tiba-tiba tertawa miris ketika mengingat beban hidupku. Sejak saat itulah
aku mulai mengalami gangguan tidur, gelisah, mengigau, bermimpi buruk bahkan
sering terbangun kaget, menangis atau berteriak dalam tidur. Aku mulai
kehilangan kendali diri atas kesadaranku.

Seperti apa yang telah dijanjikannya, bram memang
berusaha mencari jalan keluar dari permasalahan ini, hanya saja ternyata ia
hanya mencari jalan keluar untuk dirinya sendiri tanpa melibatkanku. Bram mulai
menghindar dan menjauhiku. Air mta dan merendahkan diri dengan memohon pun
bahkan tak mendapat perhatiannya sedikitpun. Tiba-tiba lelaki yang paling
kupuja dan kuhormati ini berubah drastis, seakan aku tak pernah mengenalnya
sebelumnya. Akhirnya bram benar-benar keluar dari permasalahan ini dengan
melarikan diri dengan sebuah kereta yang berangkat dari stasiun tugu di suatu
hari di bulan september 2005. Sejak saat itu aku tak pernah melihatnya lagi. Pada
detik yang sama ketika kereta tersebut meninggalkan jogja pada saat itulah
lingkaran setan mulai menciptakan nerakanya untukku.

Aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa segala sesuatunya
harus kutanggung sendiri, dan membiarkan bram lepas dari tanggung jawabnya. Aku
terus mengejar bram untuk ikut membayar
semua penanggunganku, namun hasilnya nihil, aku tidak mendapatkan apapun selain
sikap diam dan penolakan.

Jujur saja, awal putus dengan bram aku merasa baik-baik
saja. Meskipun pada saat itu kami putus namun aku tetap merasa bahwa kami
memiliki perasaan yang sama kuat dan terikat, hanya saja situasi dan latar
belakang personal kami yang berbeda yang membuat keadaannya menjadi sulit untuk
bisa terus bersama. Tapi tidak pernah terfikirkan sedikitpun olehku bahwa kami
akan menjadi lawan seperti ini. Meskipun tak lagi bersama namun pada saat itu
aku memiliki rasa percaya dan hormat yang luar biasa besarnya pada bram.

Ketika aku mulai melihat bram berubah dan jelas-jelas
menunjukkan sikap yang menghindar, aku mulai ragu dan bertanya-tanya pada diri
sendiri ; apakah aku telah salah menilai seseorang? di titik inilah aku mulai
membenci laki-laki. Persepsiku tentang laki-laki serta merta seketika itu juga
berubah. Jika seorang lelaki yang tadinya kuanggap kiriman bapakku dari surga
saja bisa tiba-tiba berubah menjadi iblis. Apalagi laki-laki lain di luar sana?

Aku sebagai perempuan merasa dihinakan. Aku merasa
perempuan ternyata tak hanya harus menanggung rasa sakit di tubuhnya, namun
juga cacat di jiwa dan hatinya. Dan laki-laki yang telah menindihku dan
menitipkan sperma di antara hangatnya liang vaginaku bisa melenggang pergi
begitu saja meninggalkanku. Tak ada suatu cacatpun di badannya, tak ada rasa
sakit yang tertinggal di tubuhnya ( namun aku tetap yakin bahwa hati dan rasa
kelelakiannya telah benar-benar mandul ! ), dan tak ada hutang yang
membebaninya.

Rasa sakit secara fisik dan psikis yang di tambah luka
hati yang dalam telah membawaku pada titik di mana aku tidak bisa melihat
apapun selain amarah. Aku marah pada Tuhan karena telah membiarkanku sendiri
dan aku juga marah pada bram yang telah lari dari tanggung jawab. Aku
melemparkan semua kekecewaanku dengan memberikan penghakiman yang keji pada
bram, aku tak kan sudi melihatnya berbahagia dan hidup tenang atas apa yang
telah di limpahkannya padaku. Aku telah menganggapnya sebagai pengecut dan
laki-laki terendah yang tak punya perikemanusiaan.

Di awal tahun 2005 aku mengawali petualanganku yang
nista. Aku mulai mengibarkan bendera peperangan pada kaum lelaki. Jika
perempuan bisa menjadi objek seks, kenapa laki-laki tidak? Akhirnya selama
hampir setahun kulampiaskan kemarahanku pada kaum lelaki lewat seks,
satu-satunya hal yang bisa membuat mereka tampak begitu bodoh dan hina di depan
mataku. Aku begitu menikmati ketika para lelaki ini tenggelam dalam permainan
sandiwara ketidakberdayaan perempuan di atas pelukan mereka. Aku begitu puas
melihat mereka merasa bangga dengan rintihan orgasme palsu yang memuja kejantanan
mereka di atas ranjang, padahal sebenarnya mereka tak lebih seorang binatang
yang dikendalikan oleh sepotong daging diantara selangkangan mereka.

Lelaki bagiku mungkin tak lebih seperti santapan
ringan yang bisa di cicipi dan dimuntahkan kapan pun kita mau. Hati yang pernah
luka membuat kita dingin dan kelu pada ketulusan, tak ada yang lebih licik dari
kita saat menertawakan kemenangan atas lawan tangguh kita ; lelaki.

kebenaran apa lagi yang bisa kita percaya, ketika setiap
kali menawarkan ketulusan itu pun di ludahi di atas kemaluan kita. kita menjadi
kejam atas ketulusan yang selalu di bodohi, menjadi licik atas hati yang pernah
di khianati.

dada dan selangkangan kita mungkin menjadi senjata ampuh
merobohkan lawan kita; lelaki. tapi pada saat kita merayakan kemenangan itu,
tak ada satu pun yang kita peroleh selain hati yang kian pilu
.”

Ya,saat itu kuakui bahwa aku telah kehilangan
kewarasanku. Aku tak lebih seperti binatang jalang yang ingin melepaskan
dendamnya atas kaum lelaki. Tapi siapapun yang merasa bahwa hidupnya tak
berharga pasti akan melakukan apapun untuk memberinya kekuatan agar bisa
bertahan hidup, meskipun harus menjadi tak waras.

Trauma akan aborsi yang menyakitkan telah membuatku
mengisolasi diri dan bertahan dengan melihat diriku sendiri sebagai perempuan
yang gagal. Aku memandang bahwa perempuan adalah perpanjangan tangan Tuhan akan
makhluk ciptaannya di muka bumi, dan ketika perempuan telah memutus
perpanjangan Tuhan maka ia telah gagal sebagai manusia.

Sekian lama aku melihat diriku begitu kecil di mata
perempuan lainnya terutama di mata kaum ibu. Perasaan kecil inilah yang
kemudian membuatku merasa tak berharga dan tak punya arti. Aku menjadi begitu
kosong dan hampa, aku menarik diri dari lingkungan ku dan mengisolasi diri
dalam gambaran dunia kecilku.

Aku tidak dapat lagi melihat masa depanku dengan
bentangan jalan yang luas. Aku telah merasa bahwa apapun yang aku lakukan aku
akan tetap selalu gagal karena aku tak lagi punya arti di hadapan Tuhan.
Perasaan berdosa telah menenggelamkanku dalam gambaran maya bahwa apapun itu
aku akan tetap gagal sebagai bentuk hukuman Tuhan akan diriku.

Pada saat yang bersamaan, semenjak awal tahun 2006
hubunganku dengan keluarga merenggang. Aku selalu menghindari pertemuan
keluarga, bahkan tak mau mengangkat telpon dari ibuku. Bukan karena membenci
mereka, tapi semakin hari aku semakin frustasi dengan kebohongan-kebohongan
sendiri, sekali berbohong maka kita akan menciptakan kebohongan baru untuk
menutupi kebohongan yang lama. Aku mulai lelah bersandiwara. Semakin sering aku
berbohong semakin besar pula rasa bersalah dan frustasi yang aku rasakan. Satu-satunya
cara untuk tidak berbohong adalah memutuskan hubungan komunikasi dengan mereka.

Tak hanya keluarga, aku pun mulai menjauh dan mengisolasi
diri dari teman dan lingkunganku. Aku tidak suka melihat kenyataan bahwa orang
lain berbahagia sedangkan aku semakin hari semakin

terpuruk. Aku selalu mengindari pertanyaan tentang kuliahku
dan apa rencanaku nantinya, karena aku tak punya kehidupan yang bisa aku
banggakan, tak punya harga diri yang bisa kupertahankan di depan orang lain. Meskipun
mungkin mereka tak mengetahuinya namun pada saat itu aku terlanjur merasa
hancur dan buruk sehina-hinanya. Aku benci melihat teman-temanku yang lulus
kuliah dan mulai merencanakan masa depannya. Aku tidak sudi melihat orang lain
bersuka cita sedangkan aku terus di rundung duka. Aku menjadi pembenci terhadap
apaun yang bersebrangan dengan diriku. Aku menjadi pribadi yang negatif. aku
bahkan muak dan membenci diriku sendiri.

Aku merasa telah mati, tak lebih dari seonggok daging
yang menunggu kebinasaannya.

” Luka sepertinya
telah menjadi teman yang setia bagiku. Rasa sakit tak lagi bisa menggores
dadaku. Air mata telah membeku. Aku telah kebal pada dera !”

Yang ku tau, saat ini sebilah pisau menghujam tajam
di dadaku. Menyesakkan nafasku. Membuatku serasa ingin mati saja…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s