My Life in Pare

Kadang menyenangkan, kadang membosankan namun seringkali menentramkan hati. Ya, itulah yang kurasakan selama beberapa minggu berada di Pare. Tak banyak hal yang bisa membuat jantungmu berdetak cepat karena sesuatu yang teramat menantang atau aku belum menemukannya saja.

Lingkungan masyarakat yang ramah, biaya hidup yang terjangkau, alam yang indah, teman-teman yang menyenangkan dan harga sebatang rokok L.A yang masih 500 perak masih terasa asyik bagiku. Belum lagi di tambah kopi ireng buatan warung sebelah yang tak kalah enaknya dengan espresso di coffee shop di kota besar. Suasana yang tenang dan sederhana mendukung untuk belajar, tentunya karena tak punya banyak pilihan untuk main-main.

Terbangun di pagi hari, sembahyang subuh lalu bersiap-siap masuk kelas. Beberapa orang nongkrong di warung sebelah sambil menikmati secangkir kopi dengan sedikit sapaan pembuka suasana sebelum pembicaraan beralih ke headline Koran hari ini. Beberapa orang dengan sabar menunggu giliran membaca Koran yang selalu datang tepat pada waktunya dan menjadi menu tambahan di warung sebelah ini. Si bapak pemilik warung sangat menyenangkan dan fasih berbicara bahasa inggris meskipun logat jawanya masih terbawa, hanya butuh waktu setengah jam untuk warming up seperti itu sebelum kelas pagi di mulai.

Aku cukup bangga dengan para pelajar yang ada di sini, dengan sungguh-sungguh mereka memilih belajar bahasa inggris di tempat yang kecil dan sunyi ini. Mereka rela menukar kesenangan kota besar dengan kesempatan belajar di tempat ini. Kadang sulit di percaya bahwa sebuah desa kecil seperti Pare telah banyak memberi kontribusi kemampuan bahasa pada banyak orang dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. Dengan puluhan pilihan tempat kursus dan sekolah bahasa inggris dan harga yang sangat murah, Pare menjadi tempat favorit untuk belajar bahasa inggris. Tak hanya itu berbaagai kursus computer dan bahasa asing lainnya juga tersedia di tempat ini. Dalam sehari kita bisa memaksimalkan waktu dengan mengikuti berbagai program kursus yang berbeda.

Hari pun berlalu begitu cepat, istirahat sebentar di siang hari cukup member tenaga ekstra untuk kembali masuk kelas di sore harinya. Di penghujung sore, setiap orang bergegas mengambil air wudhu ketika adzan maghrib berkumandang. Ini adalah rentang waktu kesukaanku karena di akhir aktifitas kita seharian penuh pada akhirnya kita bertemu dengan tuhan. Lepas sudah semua lelah a penat.

Jalanan akan mulai sepi menjelang pukul 9 malam sesaat sebelum pintu kos putrid di tutup. Jika bisaanya tak ada batasan untuk tetap beraktfitas di luar rumah, maka di sini membaca buku, menulis atau belajar adalah pilihan untuk menghabiskan waktu sebelum beranjak ke arena mimpi.

Terimakasih pare, karena telah mengajarkanku kesederhanaan dan disiplin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s