Guilt and shame

Semalam andi membawakan seorang bayi
kucing yang ditemukannya terlantar di jalan. Bayi itu baru berumur beberapa
hari, kedua matanya belum terbuka. aku menjaganya semalaman. Sepanjang malam
ia menangis, tubuhnya bergerak-gerak tak tentu arah. Kaki-kakinya yang masih
lemah itu terus bergerak, berputar, berbalik terus meraung-raung. Ia mencari
ibunya. Tanpa matanya, ia mencari ibunya dengan nalurinya. aku mencoba
memberinya susu sapi namun itu tak membuatnya berhenti menangis. Usapan,
ciuman, belaian tak membuatnya tenang. aku baru tidur pukul 2 malam itu.
Keesokan harinya, bayi mungil it uterus memangis lagi, sama seperti sebelumnya.
Semua usaha tak bisa membuatnya tenang. Ketika aku memegangnya dalam kedua
tangan ku, mulutnya yang kecil itu menghisap-hisap jariku. Seketika aku
tahu, yang dibutuhkannya adalah seorang ibu. Selama berjam-jam bayi mungil it
uterus menangis. aku tidak pernah menyangka hal itu akan sangat mempengaruhiku. Ketika aku benar-benar putus asa tak bisa membuatnya tenang, aku jadi
ikut menangis bersamanya. Lalu gambaran itu muncul. Bayi kucing mungil itu
berukuran sama dengan janin berusia 8 minggu. aku membayangkan sekecil itu pula
janin yang ku kandung ketika di aborsi. Tangisannya yang pilu benar-benar
seakan mengorek luka bathinku. Ketika ia menghisap jariku, aku
membayangkan seperti itu pula rasanya jika saja cisco ada. Tangisannya itu
begitu memilukan hati, aku tak dapat membayangkan bagaimana sakitnya yang
dirasakan cisco ketika di aborsi. Seharusnya aku bisa membelainya,
menyusuinya, dan menghentikan tangisnya. Tapi bayi itu tidak berada dalam
genggaman ku. aku tak sempat mengecupnya. aku tak pernah tahu
warna bola matanya.

tak tahu baunya seperti apa. tadi Sore hari aku
langsung mengembalikan bayi kucing mungil itu pada andi. aku tidak punya
energi lagi untuk mengurusnya. Emosi ku terkuras habis mendengar tangisnya
itu. Rasa bersalah membuat ku mengurung diri hari ini. Perasaan bersalah itu
benar-benar membuat ku merasa tak berharga. Gagal sebagai seorang perempuan.

andi, i’am so sorry about taro. i cannot control my self. since last nite taro make me so depressed, he recall all the memory behind. when he suck my finger i wonder how painful it was for cisco, crying and look after me. i feel so bad.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s