Kaki jadi Kepala, Kepala jadi Kaki

Genap satu bulan aku memulai usaha warung kecilku. Ternyata memulai bisnis bukan suatu hal yang mudah, cari duit susahnya minta ampun. Kepala jadi kaki, kaki jadi kepala, bahkan itupun belum cukup. Aku kehilangan waktu bersama teman-temanku, menghilang dari aktifitas seni dan menulis, bahkan tak sedikit kukorbankan barang-barang berharga ku hanya untuk memastikan warung ini akan terus berjalan. Tak ada lagi waktu untuk menikmati secangkir kopi di teras kamar kesayanganku, tak ada hijaunya tanaman yang menenangkanku, tak ada bintang dan bulan yang menemaniku menulis semalaman. Hidupku kini hanya berbatas dinding kaku berwarna-warni. Aku kehilangan momen-momen yang kusukai. Pagi, siang dan malam yang kupikirkan hanya bagaimana caranya agar warung ini bisa tetap buka. Cuma wortel, jahe, daun jeruk, lengkuas, sup ceker, tom yam, bubur ayam, gula..semuanya tentang rempah-rempah yang harus kusulap menjadi duit.

Belum ada keuntungan dari warungku, bisa berbelanja untuk keesokan harinya saja sudah cukup membahagiakan. Sepi pelanggan. Cuma dua hal yang terfikir olehku, kalau bukan karena promosi yang kurang berarti masakanku tak cukup enak buat selera mereka. Huh, pusing aku. Ternyata memulai usaha butuh lebih dari sekedar uang dan keinginan tapi juga keberanian untuk melakukan perubahan . untung saja ibuku sudah memperingatkanku dari awal bahwa aku perlu mempersiapkan mentalku. Paling tidak, 6 bulan pertama akan menjadi awal yang sulit. Bisa bertahan saja sudah bagus. Oke, berarti masih 5 bulan masa ujianku.
Siapapun yang memulai bisnis pasti menginginkan keuntungan. Kebebasan finansial adalah tujuanku berani memulai bisnis ini. Kupikir, sekalipun secara materi belum ada keuntungan, namun aku merasa menemukan sesuatu yang berharga, aku harus berkonfrontasi dengan diriku sendiri. Aku selalu ingin menjalankan bisnis seperti yang kuinginkan, ternyata tidak sepenuhnya bisa begitu, apalagi mengawinkan idealisme ku dalam bisnis ini. Butuh keberanian untuk melakukan perubahan, terutama untuk lebih melihat dan fokus pada selera atau apa yang orang inginkan. Bukan selera atau keinginanku. Damned, hard to deal with it. Huh….kali ini aku harus belajar menerima bahwa aku harus memakai cara lain yang tidak kusukai, harus kuakui bahwa selera kebanyakan orang berbeda denganku, dan aku harus mengikuti selera orang lain untuk mencapai tujuanku. Well, kuanggap saja untuk sementara waktu.

Semoga aku berhasil melewati ujian ini, toh gak bakal mati juga cuma karena rugi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s