Poni miring dan cinta 7.000 mil

Harusnya aku bahagia memiliki poni miring yang indah. Poni miring dengan potongan kacau dan acak hadiah perpisahan dengan sahabatku, Piero. Wajahku semakin bulat dan genit, seperti dora the explorer, kata beberapa temanku. Ah, aku tak suka Dora dan tetap saja aku tak bahagia.
Malam ini aku menatap dinding kamarku yang berdebu, kayu-kayunya mulai rusak, nyamuk-nyamuk menyapaku lagi seperti biasanya. Entah berapa lama aku tak pernah sendirian di dalam kamar ini, tiba-tiba aku mendengar suara rintihan yang pilu di dalam diriku. Suara yang kukenal sebagai sahabatku, sepi.
Poni miring tak mengubah apapun, aku tetap saja kesepian. Kesepian yang dalam dari dada seorang perempuan yang lelah berkelana. Aku hanya ingin pulang pada kekasihku. Aku hanya ingin menghilangkan jarak 7.000 mil dan kerinduan yang tertahan selama setahun. Aku ingin menangis untuknya, aku ingin tertawa bersamanya.
Kutatap sebuah lukisan berwarna biru keunguan. Abstrak. Membuatku berimajinasi tentang bentuk. Kuingat setiap detik ketika ia bersamaku dan melukisnya untukku. Aku menyukai diriku ketika bersamanya. Aku bisa menjadi seorang anak manja, riang, penuh rasa ingin tahu sekaligus seorang perempuan yang tenang. Senyumnya menenangkanku, sinar matanya membuat ego ku luluh.
Aku kangen.
“let’s bring it into reality.” Kataku padanya suatu hari. Dan ia selalu mengelak, memintaku berhenti berharap.
“we can make it real” kataku lagi
Sekali lagi, ia terlalu kecewa untuk kembali percaya pada kehidupan.
“we will see next year.” Yakinku
Aku datang pada piero, rasanya air mataku akan tumpah di hadapan bintang-bintang jika saja malam tak berawan. Padanya kutumpahkan duka-ku.
“would you help me?” kataku
Aku meminta piero kembali mengiriminya email. Piero adalah sahabatnya semenjak mereka masih kanak. 5 tahun terakhir mereka tak banyak bicara.
“woow, you’re tough woman. You can stand with him?” kata piero
“why not?”
“i dont want email him anymore” kata piero
“please, do it for me.” Aku memaksa piero melakukannya untukku
“If you care about him, Let’s do something. Help me do this for him. Just send him email, i will do the rest.” Kali ini piero mengangguk
“ok” katanya. Aku senang, kupeluk piero dengan hangat.
Seperti dugaanku, email piero membantunya kembali optimis.
“we will see next year.” Kataku sekali lagi. Kali ini ia hanya memintaku berdoa agar terkabul.

..cintaku akan menemukan takdirnya segera, tergantung pada 300 euro dan berakhirnya krisis global………..semoga saja !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s