Jangan takut menyerah !

Dua tahun yang lalu aku memutuskan kembali ke kota jogja dan memulai SAMSARA. Tanpa pekerjaan, tanpa tempat tinggal.

Nino, Codet dan Mamang adalah pahlawanku. Mereka membiarkan aku dan shanty tinggal di rumah kontrakan mereka di soboman. Kamar paling depan yang sebelumnya di isi oleh Pirie, menjadi kamarku. Rumah yang tadinya mulai sepi dan kotor itu kembali hidup dan ceria. Kebun belakang menjadi tempatku menulis, menari dan bermeditasi.

Bayu Widodo meminjamkanku sepeda onthelnya, bersama dengan danto dan yoyo jewe menyusuri jalanan sambil bercumbu dengan puisi. Sesekali duduk di sofa coklat cerewet dan saling berbagi kisah. Tak hanya kisah yang kami bagi, bahkan es teh,rokok dan nasi bungkus pun kami bagi bersama. Hanya celana dalam saja yang tak kami bagi bersama.

Aku terbangun lebih pagi dari siapapun di rumah, membereskan botol bir atau anggur sisa semalam di kebun belakang dan berharap dapat menjualnya sebagai tambahan uang saku ku. Tapi kadang-kadang aku kalah cepat oleh nino atau codet,hihihi…

Tak lama dari situ, aku pun pindah ke Baraka. Tak jauh berbeda dengan saat aku di soboman, botol-botol bekas masih terus kuandalkan untuk menambah uang saku ku. Seringkali aku menunggak bayaran kos dan setiap kali aku meminta maaf, ibu kos ku akan bilang “ udahlah, bayar aja kapan pun kamu ada duit. Kere aja sok gaya’. Katanya sambil becanda. Ia adalah pahlawanku juga. Aku haya membayar satu kamar namun mereka membiarkanku menggunakan ruangan lantai satu untuk acara SAMSARA, bahkan seringkali aku tak diperbolehkan membayar sarapan di warungnya setiap kali ia tahu aku tak punya uang. ‘ kamu bisa bayar nanti kalau kamu sudah kaya’,katanya lagi.

Seorang lelaki bermata biru membuat hidupku penuh suka cita, bersamanya aku menikmati sebuah kamar tak berjendela di salah satu bangunan tua yang sedang di renovasi. Kami makan satu piring berdua untuk menghemat uang. Biarpun dia bule, tapi kere nya luar biasa. Dan miskin inilah yang sepertinya menambatkan hati kami masing-masing. Walau tidur beralas matras yang gatalnya luar biasa,aku bahagia bersamanya. Tepat sebelum kepergiannya, ia membelikanku dua buah baju bekas seharga sepuluh ribuan. Aku senangnya luar biasa seakan aku baru saja keluar dari sebuah butik terkenal di kota paris.

Lelaki inilah yang selalu menghadiahiku dengan email yang indah,hampir setiap hari selama dua tahun. Dia yang mengisi keyakinanku untuk melakukan sesuatu yang kuinginkan dan percaya bahwa apapun yang kulakukan dengan benar akan menghasilkan hal baik. Ia membuatku percaya bahwa tak ada batas yang tak bisa kuraih.

Ketika aku hampir menyerah dan pulang ke rumah ibuku, ia tahu aku masih tak mau menyerah,maka ia mengirimiku uang agar aku tak lagi kelaparan, katanya ‘ berikan energimu untuk melakukan hal baik, jangan buang energimu hanya karena memikirkan perutmu yang lapar.’ Aku sangat haru, padahal aku tahu uang itu adalah hasil kerja keras yang ia kumpulkan agar dapat keluar dari rumah orang tuanya. Dan ia memilih tetap tinggal bersama keluarganya, suatu hal yang ia benci,hanya agar aku dapat terus bekerja dengan SAMSARA.

Selama hampir dua tahun,setiap kali aku memikirkan perutku rasanya aku ingin menyerah. Aku ingat penjual nasi kucing langgananku, setiap pagi aku akan membeli 3 bungkus nasi kucing dan gorengan yang akan kusimpan hingga makan malam. Hanya dengan uang 5 ribu aku mencegah perutku dari kelaparan setiap harinya. Rasanya konyol ingin berjuang dengan SAMSARA,sedangkan aku saja tak dapat memberi makan perutku sendiri, masih menunggak bayar kos, dan hanya bisa meringis setiap kali sakit karena tak dapat periksa ke dokter. Sesekali aku akan mengirim sms pada ibuku dan memintanya mengirim uang 50 ribu saja agar aku dapat bertahan hidup.

Aku selalu ingin menyerah setiap hari. Sesekali aku akan mengetuk pintu kamar david dan meminta sebuah pelukan, lalu terduduk di dapur dan menangis sesenggukan. Aku tak tahan lagi, ingin menyerah. Dan david, akan membiarkanku menangis dan berkata ‘kamu boleh menyerah malam ini, tapi besok aku tahu kamu akan bangkit lagi.’

David benar,meskipun aku menemukan seribu alasan untuk menyerah,namun sebuah email dari klien-ku akan membuatku bangkit kembali setiap harinya. semangat tika, zul, kapit dan teman-teman lainnya selalu membuatku merasa malu untuk tak bangkit lagi. mereka lah yang membantu mewujudkan obrolan ringan tentang mimpi samsara menjadi sebuah kenyataan.

Gernandi Gani adalah salah satu pahlawanku. Dia adalah lelaki yang akan berdiri di belakangku dan siap menyokongku dalam keadaan apapun. Ia adalah saksi yang melihat bagaimana aku bangkit dari manusia yang telah mati hingga berusaha menyusun kembali mimpi-mimpi dan mewujudkannya.

Keadaan mulai berubah ketika akhirnya ibuku sepakat meminjamiku sejumlah uang untuk memulai usaha warung. Ibuku benar, semenjak itu aku tak perlu khawatir lagi dengan rasa lapar dan tunggakan kos. Namun tantangan lainnya muncul, sejumlah pemuda dan orang-orang kampung tak menyukai keberadaanku di sana. Tak hanya mengancam dan menginterogasi berulang kali dalam keadaan mabuk, ke-empat kucingku pun dihabisi oleh mereka.

Akhirnya aku kembali ke kos lamaku, kembali lapar, menunggak kos, dan tak bisa membayar utang pada ibuku.

Aku semakin menemukan banyak alasan untuk menyerah. Lagi-lagi, orang-orang di sekelilingku dan klien-klienku berhasil membuatku urung menyerah.

Untunglah aku tak jadi menyerah setiap kali aku ingin menyerah.
Dahulu,setiap kali kepulanganku ke tasik, kakak-kakak ku akan berkumpul dan urunan sejumlah uang untuk membekaliku pulang ke jogja. Mereka selalu berkelakar bahwa sudah saatnya zakat untuk orang miskin agar tak terlantar di kota orang. Yang tentu saja kuterima dengan senang hati.

Hari ini aku menikmati sehari bersama keluargaku, dan untuk pertama kalinya aku bisa membelikan hadiah untuk nenek ku, membeli roti-roti untuk kakak ku, dan dvd permainan untuk keponakanku. Untuk pertama kalinya aku bisa mengeluarkan uang dari keringat dan kerja kerasku di SAMSARA,untuk keluargaku. Aku haru.

Aku menulis ini karena beberapa saat yang lalu Tara,seorang teman dari amerika, mewawancaraiku untuk proyek bukunya ‘Girls and Activism Around the World’. Somehow, aku merasa ketika berbicara tentang SAMSARA, terlalu banyak fokus untuk diriku. SAMSARA bukan inna, SAMSARA adalah setiap orang yang ku kenal dan telah memberikan kontribusinya dalam hidupku. SAMSARA adalah milik semua orang, mereka yang telah memberikan kepercayaannya padaku, yang telah memberiku pelukan, yang memberikan pundaknya saat aku menangis, bahkan mereka para pencinta bir yang telah meninggalkan botol birnya untuk ku. Namun yang pasti, SAMSARA adalah milik para klien yang telah memberi kami kepercayaan besar untuk memasuki kehidupan mereka.

Tara menanyakan hal ini padaku :
‘jika ada hal yang ingin kamu sampaikan pada seluruh gadis di dunia,apa yang ingin kamu sampaikan?”

Jawabku :
‘ jangan takut untuk menyerah, menyerah lah sesering mungkin selama kita tahu bahwa kita selalu punya kekuatan untuk bangkit!’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s